BLANGKEJEREN – Banjir bandang dan tanah longsor baru saja terjadi, puing-puing rumah yang runtuh masih berserak diberbagai desa. Ada rumah yang masih tertimbun lumpur, ada juga hunian warga yang hanyut tidak menyisakan bekas.
Bencana di akhir tahun 2025 ini seperti kiamat Sugra (kiamat kecil) yang sangat menyayat hati, Ribuan orang terpaksa pindah ke tenda pengungsi setelah rumahnya disapu banjir dan tertimbun lumpur, dan sebagian lainya memilih bertahan menghadapai badai berkelanjutan.
Jeritan warga itu bermula pada hari Minggu tanggal 23 November 2025 yang lalu, dataran tinggi Gayo Lues diselimuti awan hitam, dan hujan dengan intensitas rendah dan sedang menguyur tanpa henti hingga tiga hari tiga malam.
Puncak bencana Hidrometerologi itu terjadi pada hari Selasa tanggal 25 November 2025 yang lalu, warga yang tinggal disepanjang aliran sungai Kuala Tripe, warga yang tinggal di hulu sungai Kali Alas, dan warga yang tinggal di dekat aliran sungai Pining mulai disapu luapan air berwarna coklat yang datang dengan batang pohon yang besar.
Penduduk yang menyadari bahaya tersebut memilih meninggalkan rumah tanpa syarat, ada yang sempat menyelamatkan harta benda, dan ada juga yang terpaksa mengiklaskan hartanya disapu gelombang.
Para korban hanya bisa menagis melihat hunianya disapu gelombong air yang keruh, melihat lumpur menimbun rumah, dan dipaksa menyingkir kepegunungan terdekat.
Tak lama berselang, informasi jalan longsor dan jembatan putus menyebar cepat dipusat kota Blangkejeren. Semua akses keluar masuk Gayo Lues putus total.
Warga yang menjadi korban dan warga terdampak dipusat kota mulai panik, kebutuhan keluarga menipis, jaringan internet mati, listrik padam bergilir, gas langka, hingga BBM habis.
Puncak keresahan warga Gayo Lues terjadi Seminggu paska banjir dan tanah longsor, jalan lintas nasional Gayo Lues-Aceh Tenggara masih belum bisa ditembus, jalan Gayo Lues Aceh-Tengah tertimbun longsor, jalan Gayo Lues-Aceh Timur putus total, dan jalan lintas Gayo Lues-Abdya ikutan longsor.
“Jumlah pengungsi di Kabupaten Gayo Lues Paska banjir dan tanah longsor mencapai 13.460 jiwa atau 4.226 KK. Sedangkan jumlah yang terdampak mencapai 20.329 jiwa atau 5.550 KK di Tujuh Kecamatan,” kata Kepala Dinas Sosial Gayo Lues Jasiwa Maytense, SE, MM., Selasa, 30 Desember 2025.
Masing-masing pengungsi itu berada di Kecamatan Blangkejeren, Dabun Gelang, Rikit Gaib, Pantan Cuaca, Putri Betung, dan di Kecamatan Tripe Jaya.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Perkim) Gayo Lues Jakaria S.Hut, mengatakakan total rumah korban bencana banjir dan tanah longsor tahap pertama ini mencapai 5.272 rumah.
“Ada 20 Desa yang harus di relokasi paska banjir dan tanah longsor, pemukiman penduduk sebelumnya sudah tidak memungkinkan ditinggali,” katanya.
Dua Puluh desa yang harus direlokasi di Kabupaten Gayo Lues itu antara lain desa Uyem Beriring, desa Pulo Gelime, Pasir, Setul, Kuning, Cane Toa, Rigeb, Remukut, Seneren, Kuning Kurnia, Tetinggi, Pertik, Pining, Uring, Pasir Putih, Ekan, Pepelah, Ramung Musara, Singah Mulo, dan desa Agusen.
Selain rumah yang hanyut, kerusakan parah juga terjadi terhadap areal persawahan warga, perkebunan, jalan dan jembatan lintas Kabupaten, Provinsi, dan jalan nasional.
“Jika hanya mengandalkan daerah dan Provinsi Aceh, paska bencana ini tidak bisa kita tangani. Pemerintah Pusat harus turun tangan membantu daerah yang yang tertimpa musibah banjir dan longsor ini,” kata Bupati Gayo Lues, Suhaidi, S.Pd, M.Si.
Bupati Gayo Lues mengaku telah berbuat agar masyarakat tidak kelaparan paska bencana terjadi, bantuan yang masuk terus disalurkan kepada pengungsi dan kepada daerah terisolir.
“Bantuan kebutuhan pokok saja tidak cukup diberikan paska bencana, banyak hal yang harus diperbuat Pemerintah agar keadaan bisa berangsur normal,” ujarnya.
Bupati berharap agar masyarakat Gayo Lues tidak panik berkelanjutan, Pemerintah Daerah akan terus berusaha agar Pemerintah Pusat membantu memulihkan Kabupaten Gayo Lues paska bencana banjir dan longsor.[]








