SUBULUSSALAM – Melonjaknya harga pupuk sejak setahun terakhir menyebabkan kebun kelapa sawit milik petani di Kota Subulussalam tidak terawat maksimal. Dikabarkan banyak petani tidak melakukan pemupukan tanaman sawit lantaran harga pupuk yang terus mengalami kenaikan.
Kenaikan semua jenis pupuk tersebut berdampak pada menurunnya produksi buah TBS kelapa sawit di Bumi Syekh Hamzah Fansuri itu disebabkan kebun lama tak dipupuk sehingga hasil panen petani pun menurun (atrek).
Ketua Apkasindo Kota Subulussalam, Ir. Netap Ginting kepada portalsatu.com/, Jumat, 10 Maret 2023 mengatakan produksi TBS kelapa sawit di Kota Subulussalam menurun akibat mahalnya harga pupuk, petani sudah delapan bulan tidak melakukan pemupukan kebun kelapa sawit milik mereka.
Lebih lanjut Netap menjelaskan harga Pupuk Non Subsidi saat ini seperti Urea Kaltim Rp 530.000/Sak 50 Kg. TSB Cap Burung Rp Rp 900.000/Sak 50 Kg. KCL Rusia Rp 1200.000/Sak 50 Kg dan Kisrit Cap Burung Rp 370.000/Sak 50 Kg.
Sementara harga pupuk Subsidi Urea hanya Rp 110.000/Sak, SP-36 Rp 150.000/Sak, NPK Phonska Rp 150.000/Sak. Karena itu, Apkasindo Kota Subulussalam memohon kepada wali kota untuk dapat mengusulkan kepada Menteri Pertanian, agar petani yang memiliki lahan satu sampai dengan empat haktare (ha) supaya dapat bantuan pupuk Subsidi.
Netap menyebutkan kenaikan harga pupuk tersebut sangat berdampak pada penurun produksi petani sawit mencapai 50 persen, sehingga merugikan petani sawit yang seharusnya bisa mendapatkan hasil produksi yang lebih baik, dengan memupuk tanaman sawit apabila tersedia pupuk subsidi bagi petani sawit.
"Menurut data yang kami punya produksi TBS kelapa sawit di Kota Subulussalam menurun ada 50 % dari biasanya. Jika sebelumnya produksi ada
2000 ton per hari, yang dapat memenuhi bahan baku pabrik di Kota Subulussalam yaitu GSS, BSL, SSN dan BDA .Saat ini produksi TBS hanya 1000 ton per hari," ungkap Netap.
Netap menjelaskan harga TBS di tingkat petani kisaran Rp2.200-Rp2.300 per kilogram, sedangkan di level Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) berada di kisaran Rp1.440-Rp1.500 per kilogram. Sementara harga CPO-KPPN Franco Belawan dan Dumai 9 Maret 2023 berada di angka Rp12.900 dari sebelumnya Rp13.125 per kilogram.
Bagi petani sawit, kata Netap harga TBS Rp2.200 hingga Rp2.300 tersebut sebenarnya tergolong normal apabila tidak disusul harga pupuk yang begitu mahal. Akibatnya, hasil panen yang diperoleh petani diutamakan untuk kebutuhan keluarga.
Menurut Netap, dengan harga pupuk mahal saat ini, sejatinya harga TBS di level petani minimal berada di angka Rp2.500 per kilogram. Sehingga petani bisa berbagi keuntungan panen, selain dipakai untuk kebutuhan dapur, juga digunakan biaya perawatan kebun (pupuk) guna meningkatkan produksi buah.
Ia menambahkan, jelang Ramadhan dan menyambut Lebaran Idul Fitri kerap terjadi penurunan harga TBS. Biasanya penurunan itu hanya terjadi di pabrik saja, sedangkan harga CPO normal tidak ada perubahan harga. Nah, jika ini terjadi, Apkasindo berharap Pemerintah Kota Subulussalam melalui Dinas Pertanian harus mengawal harga TBS yang ditetapkan oleh Pemerintan Provinsi Aceh.
"Solusinya, pemda harus kawal harga TBS yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Aceh, karena ini merupakan tugas pemerintah daerah monitoring dan evaluasi melalui kadis pertanian," kata Netap Ginting. []






