WANITA itu terlihat sedih dan lesu dengan balutan baju gamis dan kerudung panjang. Matanya terlihat masih sembab, Rabu, 3 Februari 2016. Namanya Marliah, istri almarhum Barmawi.

Ketika portalsatu.com bertamu ke rumah milik orang tua almarhum Barmawi, di Dusun Rancung Baru, Desa Blang Naleung Mameh, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Marliah sedang memangku anak perempuan buah cintanya dengan Barmawi. Dia hanya bisa mengikhlaskan kepergian suaminya yang tertembak dalam kontak senjata dengan polisi.

Wanita kelahiran 28 tahun silam tersebut kini harus berperan ganda membesarkan anak semata wayang mereka pasca ditinggal Barmawi.

Berdasarkan keterangan polisi, Barmawi, merupakan penculik Kamal Bahri, yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Unit Layanan Pengadaan (ULP) Setda Aceh. Mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tersebut tewas bersama temannya, Ismuharuddin, di kawasan Keude Gerugok, Bireun, Senin, 1 Februari 2016 sekitar pukul 11.15 WIB. 

“Saya tidak mengetahui seperti apa motif kejadian itu hingga menimpa suami, dan menjadi duka yang mendalam yang saya alami saat ini,” ujar Marliah.

Marliah bercerita, pada Rabu, 27 Januari 2016 lalu, suaminya sempat pulang ke rumahnya di Gle Madat, Desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara. Rumah itu merupakan tempat Marliah bersama Barmawi membesarkan buah hati mereka.

Marliah mengatakan sebelum insiden di Geurugok terjadi sempat berpamitan untuk pergi ke Banda Aceh. Dia mengaku tujuannya ke ibu kota untuk mencari rezeki. “Kalau selain dari pada itu saya tidak pernah tahu menyangkut persoalan pribadi atau hal lainnya,” kata Marliah.

Hingga akhirnya Marliah mendapat kabar suaminya tewas pada Senin siang. Dia sempat mempertanyakan alasan suaminya dibedil polisi hingga tewas di lokasi. 

“Kenapa suami saya sampai ditembak langsung seperti itu. Jikapun mereka (polisi) menganggap dia bersalah, kenapa tidak dilumpuhkan sesuai aturan, melumpuhkan bagian kakinya. Tapi ini sebaliknya, mengapa harus ditembak sampai meninggal seperti itu,” kata Marliah.

Marliah tidak menduga bakal mengalami kejadian seperti ini. Dia dan keluarga Barmawi sangat sedih. “Anak saya ini masih kecil, rasanya sedih sekali,” tutur Marliah dengan mata berkaca-kaca.

Marliah juga tidak menemukan jawaban terkait masalah yang menyebabkan Barmawi tewas. Dia hanya bisa pasrah menerima kenyataan. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa atas kejadian ini, hanya doa yang bisa kami berikan untuk almarhum,” ujarnya.

“Mungkin ajalnya sudah sampai di sini. Saya pun harus rela, Allah yang menentukan segalanya. Hanya saja saya sedih yang sangat mendalam atas kejadian ini,” kata Marliah berlinang air mata.

Marliah membantah tudingan suaminya menculik Sekretaris ULP Setda Aceh dengan tujuan memeras.

“Setahu saya, suami saya tidak pernah melakukan pemerasan terhadap orang lain dan warga di sekitar rumah pun tahu bagaimana keseharian almarhum,” ungkapnya.

Ayah Syifa Indria ini juga disebut-sebut tidak pernah terlibat kriminal. Marliah mengatakan pribadi Barmawi dikenal sangat baik dan mudah bergaul dengan siapa saja. 

“Memang sebelumnya ada dikasih kabar kepada saya bahwa dia sedang berada di Banda Aceh, ada urusan proyek. Akan tetapi saya tidak tahu menyangkut proyek apa, hanya sekedar kasih tahu keberadaannya saja sama saya,” kata Marliah.

Marliah kini dilema memikirkan masa depan anaknya yang baru berusia 5,5 tahun. “Pak! Anak saya masih kecil sedangkan ayahnya sudah meninggal. Saya tidak berharap apapun selain berdoa,” ujarnya.

Dia juga meminta polisi untuk bisa mengembalikan handphone milik Barmawi. Menurut Marliah, di handphone tersebut banyak tersimpan nomor teman-teman Barmawi. “Siapa tahu ada harta Barmawi sama temannya itu, kan bisa ditabung untuk membesarkan Syifa Indria,” kata Marliah.

Wanita 28 tahun ini juga berharap polisi mengembalikan semua isi dompet beserta kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) milik Barmawi. “Di sana semua ada tabungan milik Barmawi,” kata Marliah.[](bna)