SUBULUSSALAM – Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) Kota Subulussalam mengeluarkan pernyataan resmi terkait sorotan bus sekolah yang sudah lama parkir disebabkan tidak adanya bahan bakar minyak (BBM).

Kepala Disdikbudpora Subulussalam Irwan Yasin melalui Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Kamsih kepada portalsatu.com, Jumat 5 Agustus 2016 mengatakan biaya operasional untuk delapan unit bus sekolah senilai Rp700 juta selama setahun hanya sampai pada bulan Juni.

Ia menjelaskan biaya gaji sopir sebanyak delapan orang mencapai Rp 144juta, belum lagi pengeluaran BBM setiap hari untuk biaya operasional rata-rata 30 liter perhari atau senilai Rp 165.000 kali delapan bus total Rp 1.032.000.

Dalam sebulan pengeluaran untuk bahan bakar saja mencapai Rp 31juta kali 11 bulan sehingga jumlahnya Rp 348 juta setelah dipotong satu bulan karena Ramadan siswa libur sekolah.

“Karena itu untuk bahan bakar hanya cukup sampai bulan Juni saja, sehingga kami terpaksa meminjam untuk memenuhi kebutuhan BBM,” katanya.

Bahkan, kata Kamsih untuk biaya perawatan mobil saja, pihaknya sudah mengeluarkan sebanyak Rp 200juta lebih disebabkan kondisi mobil yang sering rusak akibat termakan usia.

“Kondisi keuangan untuk dana bus sekolah sudah res, habis total,” katanya.

Pihaknya berharap ada penambahan dana pada Anggaran Pendapatan Belanja Kota Perubahan (APBK-P) tahun ini senilai Rp 300juta untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional termasuk menutupi hutang selama ini.

“Namun di APBK-P untuk bus sekolah itu hanya Rp 50juta mana cukup,” ujarnya.

Padahal, kata Kamsih biaya operasional bus sekolah tahun sebelumnya jauh lebih besar yakni Rp 900 juta sehingga aktivitas berjalan lancar. Sementara pada tahun 2014 lalu justru mencapai Rp 1,2 miliar.[]

Laporan Sudirman