Untuk mempromosikan pesona panorama alam itu, Pemerintah Kabupate Gayo Lues menggelar ekspedisi segitiga Marpunge, tak tanggung-tanggung 236 orang ikut serta. Tim ekspedisi dilepas oleh Sekretaris Daerah (Sekda) H Thalib di depan Pendopo Bupati Gayo Lues, Jumat, 28 Februari 2020 sekitar pukul 14:30 WIB.
Mereka yang tergabung dalam tim ekspedisi terdiri dari beberapa kelompok pecinta alam dan sejumlah pejabat daerah berangkat dengan beberapa mobil, tiba di desa Saonggal-Onggal Kecamatan Putri Betung sekitar pukul 15:45 WIB, lalu melanjutkan perjalanan dengan motor, tapi beberapa pengendara nyaris jatuh karena jalur pendakian yang masih sangat alami.

Para pejabat Gayo Lues di Danau Marpunge [foto: Win Porang]
Sepeda motor ditinggalkan di sisi jalan, lalu tim ekspedisi berjalan kaki menaiki bukit dan melintasi perkebunan warga, sekitar 15 menit kemudian tim tiba di pos pertama (camp satu). Rasa lelah kentara dari wajah-wajah para pendaki. Tim memilih bermalam di camp satu, tempat tenda-tenda telah disiapkan oleh tim perintis sebelumnya dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gayo Lues.
Sebagian anggota tim yang membawa tenda sibuk mendirikan tenda-tenda kecil. Setelah istirahat dan menggalkan lelah, para pendaki makan bersama yang kemudian dilanjutkan dengan shalat magrib berjamaah.
Suasana malam camp satu seperti ajang silaturahmi, rombongan yang tergabung dari berbagai kalangan saling sapa dan bercerita dengan tim lain yang beredekatan tenda. Cerita itu baru usai setelah malam mulai larut. Malam itu, semua peserta ekspedisi masuk ke tenda, tidur secepat mungkin menyiapkan tenaga untuk esoknya melanjutkan perjalanan ke camp dua di Pasir Putih.
Sekitar pukul 22:13 WIB, hujan turun disertai tiupan angin, satu persatu tenda yang telah dipasang basah, tak ada cara lain, karena tanah basah, anggota tim ekspedisi mulai jongkok dan mengamankan tas bawaan dari air hujan.
Hujan semakin deras, tenda-tenda yang ditempati mulai bocor dari atas dan genangan air dari bawah, suasana ini menjadi tantangan rombongan hinggaa memaksa tidur dalam keadaan duduk sampai hujan reda sekitar pukul 03:00 WIB.
Pagi hari irama alam mulai terdengar, siulan burung dan suara binatang penghuni rimba menghadirkan melodi alam yang sangat harmoni. Kepala BPBD Gayo Lues, Suhadi mempersilhakan tim untuk sarapan, ia memberitahukan bahwa Bupati Gayo Lues, H Muhammad Amru juga ikut serta. “Pak Bupati dipastikan akan menyusul kita pukul 10:00 WIB nanti,” kata Suhadi.
Mulai pukul 07:30 Wib hingga pukul 09:00 Wib, tim ekspedisi mulai bergerak menaiki gunung terjal, melintasi batang kayu besar yang tumbang, hingga harus melewati rotan berduri di jalan menanjak .
Satu per satu tim yang berangkatpun mulai tampak kelelahan setelah satu jam perjalan, rata-rata, pendaki harus bolak balik menarik napas dan berhenti supaya bisa melintasi jalan terjal yang penuh tantangan itu. Tak sedikit, sepatu tim ekpedisi harus diikat menggunakan rotan dan karet seadanya karena rusak berat.
Dalam perjalanan menuju camp dua, sebagian pendaki ada yang harus balik lantaran tidak sanggup melanjutkan perjalanan, dan bagi kebanyakan pendaki tetap menapaki jalan hutan itu hingga tiba ke camp dua pada pukul sekitar pukul 10.00 WIB.
“Alhamdulilah kami bisa menempuh dua jam perjalanan. Kami berangkat Pukul 07:49 WIB, tibanya di camp dua Pasir Putih pukul 09:58 Wib,” kata Kabag Umum Sekdakab Gayo Lues, Anwar yang ditemani Kabag Ekonomi Yunus bersama Dian dari Sekretariat DPRK.
Setelah tim Sekdakab Gayo Lues berhasil sampai ke lokasi hamparan Pasir seluas 5 hektar, satu persatu rombongan mulai berdatangan sembari membuat tenda, dan Bupati H M Amru bersama pengawal dan rombongan yang menyusul tim ekspedisi, tiba di Pasir Putih pukul 17:30 WIB.
Bupati Gayo Lues H M Amru mengatakan, wisata Danau Segi Tiga Marpunge terbuka untuk umum, tetapi setiap orang yang hendak berwisata harus jelas identitasnya dan melapor ke Balai Taman Nasional Gunung Leuser.
“Kita sangat penasaran atas pemberitahuan masyarakat, bahwa ada hamparan pasir putih dan Danau Marpunge, dan setelah melewati perjalanan yang sangat-sangat melelahkan selama tiga jam setegah, ternyata itu benar, mudah-mudahan banyak orang lain yang lebih penasaran lagi dan berkunjung kesini,” katanya di hamparan Pasir Putih itu.
Pasir putih di lokasi wisata Danau Marpungge memiliki daya tarik bagi pencinta alam, kerikil dan batu besar yang berwana putih menyuguhkan keindahan yang sangat menakjubkan. “Disini kita harus berhati-hati, karena di ujung sebelah kiri hamparan pasir putih ini ada lubang mengeluarkan gas belerang yang berbahaya,” kata Amru mengingatkan tim ekspedisi.

Peserta ekspedisi Marpunge di Pasir Putih [foto: Win Porang]
Satu malam di camp dua Pasir Putih, rombongan ekpedisi kembali melanjutkan perjalanan menuju Danau Segi Tiga Marpunge, Minggu, 1 Meret 2020. Rombongan mulai bergerak setelah menggelar apel bersama di hamparan Pasir Putih sembari membacakan deklarasi bersama menjaga kelestarian hutan. “Kita harus menjaga hutan tetap lestari untuk menghindari bencana,” kata Bupati Amru.
Usai menggelar apel, semua rombongan bergerak menuju Danau Marpunge, perjalanan yang dimulai pukul 08:20 WIB itu sangat mengasikan karena disepanjang jalan semua tim bisa menikmati suara burung hutan alami dan angrek bermacam jenis.
Pukul 10:00 WIB, semua rombongan sudah tiba di Danau Marpunge termasuk Bupati Gayo Lues H Muhammad Amru, Kepala Bappeda, Kadis Lingkungan Hidup, Kadis Kesehatan, Kepala Catatan Sipil, Kabag Umum, Kabag Ekonomi, dan beberapa pejabat lainya. Bupati mengaku sangat takjub melihat keindahan Danau Segi Tiga Marpunge yang luasnya mencapai 8 hektar lebih.
“Saya sangat takjub melihat keindahan Danau Marpunge ini, suasannya benar-benar beda, dan keindahan yang disuguhkan benar-benar sebanding dengan perjalanan menuju kesini,” katanya.
Danau Marpunge yang tersembunyi di tegah hutan dengan ketinggian di atas 1800 Meter Di atas Permukaan Laut (MDPL). Para pendaki benar-benar menikmati pesona alam perawan.[Win Porang]







