Oleh: Taufik Sentana*
Tidak ada yang dapat menolak musibah saat ia ditetapkan terjadi atas diri dan kehidupan kita. Para nabi pun ditimpa musibah, berupa kesusahan, penolakan, penghinaan, kekalahan dan kematian. Bahkan, mereka (alaihimissalam) disebutkan sebagai kelompok tertinggi yang paling berat ditimpa musibah, lalu disusul para pengikutnya, kaum mukminin dan salihin.
“Maka bersabarlah, sebagaimana kesabaran nabi-nabi ulul-azmi,” demikian firman-Nya dalam Alquran.
Di forum kecil ini kita tidak membedakan secara khusus antara musibah dan azab, sebab husnuzan bahwa azab hanya dikhususkan Allah bagi kaum tertentu, pada waktu dan kondisi yang tertentu pula. Di sini musibah kita definisikan sebagai bagian dari ujian keimanan. Bagian dari penyadaran dan penajaman eksistensi diri serta menjadi ikatan kemanusiaan kita dengan manusia lainnya, walau berbeda agama, suku dan bangsa.
Musibah pada galibnya memang membuat kita berpikir ulang, menanyakan kembali: kenapa, bagaimana, untuk apa dst. Walau secara teologis pertanyaan tersebut tidak dipinta untuk diucapkan, tapi itulah luapan gejolak jiwa yang lumrah adanya. Namun, pada akhirnya, mesti memulangkan musibah tadi pada idiom “kita ini dan apa yang melingkupi kita hanyalah milik Allah”. Sehingga kita tersadar bahwa apa yang kita capai dan apa yang hilang dari kita telah diukur dalam timbangan kejadian. Kita pun menjadi rela, ikhlas, lebih khusyuk menjalani hidup.
Sungguh, ini amatlah berat di awal. Maka dibutuhkan kesiapan diri, kesadaran dan dukungan orang terdekat serta lingkungan. Rasa berat di awal tadi sebagai pembersih kealpaan kita dan penajam cara pandang kita terhadap yang kita persepsi selama ini. Dengan adanya sesuatu yang menimpa kita, walau sekadar debu yang mengenai mata atau kaki yang terkena duri, itu cukup memberikan kita pengertian betapa kita tak berdaya, butuh penjagaan dan penerimaan terhadap hal-hal yang di luar nalar kita.
Jadi, saat musibah dapat kita maknai dari ragam sudut, saat itulah jiwa kita dapat terkuatkan secara perlahan. Jiwa tadi terkuatkan awalnya, karena terbitnya kesadaran diri, terlepasnya keegoan yang masih menempel. Kemudian bermuara pada harapan yang lebih tinggi dari Si Pemilik Keputusan. Hingga mendorong kita agar tetap bersandar kepada-Nya untuk esok yang lebih baik, bermanfaat dan dirahmati.[]
*Taufik Sentana
Dari Ikatan Dai Indonesia, Aceh Barat.
Salam dan doa untuk saudara-saudaraku sekalian yang tertimpa musibah, di mana pun.



