Jumat, Juli 19, 2024

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...
BerandaNewsDari Air yang...

Dari Air yang Beku, Kehidupan pun Muncul

Lelehan air di bawah gletser di Greenland merupakan sumber penting dari silicon yang dibutuhkan beberapa plankton untuk membangun kerangka kaca mereka.

Plankton yang disebut diatom menggunakan bentuk oksidasi dari silikon, yakni silika, ketika mereka tumbuh. Plankton mengurangi jumlah yang cukup signifikan dari karbondioksida di atmosfer ketika mereka berfotosintesis. Kemudian mereka akan membawanya ke dasar laut bersama jasad mereka ketika mereka mati. Merekalah penyerap karbon alami.

Akan tetapi perkembangan plankton mungkin akan terhambat dan berkurang tanpa suplai silikon yang cukup.

Dasar gletser merupakan sarang dari aktivitas fisik dan kimiawi seperti es yang terlindas di bawah bebatuan. Aktivitas-aktivitas semacam itu membebaskan ratusan ribu ton besi yang kemudian dibawa ke laut oleh air lelehan, menyuburkan lautan dan memungkinkan plankton untuk berkembang.

Silikon yang Melimpah

Jon Hawking dari Universitas Bristol, Inggris mengatakan diatom yang begitu melimpah di perairan pantai Greenland merupakan dampak langsung dari air lelehan dengan kandungan silikon yang melimpah.

Ia mempresentasikan penemuan ini pada konferensi Goldschmidt di Praha, Republik Ceko. Rencananya, ia dan rekan-rekannya akan merinci jumlah silikon di air lelehan dalam beberapa bulan ke depan.

Satu-satunya kekhawatiran saat ini yaitu perubahan iklim yang bisa mempengaruhi proses pelelehan gletser menjadi tak terprediksi. Sehingga berdampak pada produktivitas laut dan fluks karbon global. | sumber : nationalgeographic

Baca juga: