Karya: Taufik Sentana*
Pengalamanan dan peristiwa
telah berteman sejak lama.
Dari pertemuan keduanya
puisi bermula,
membentuk rupa
membelah makna
lalu menyisir realitas bendawi
dan kehalusan jiwa.
Bahasa dan kata
adalah perangkat
kemanusiaan kita.
Sejak Adam Dicipta
Ia telah belajar benda benda
dengan segenap fungsi dan makna.
Sampailah ke Idris
dan Nuh
lalu ke zaman kita pula.
Bila puisi itu mengandung
sejumput saja kebenaran,
ia dapat mewarisi titah kenabian,
begitu kata Sir Iqbal dari Pakistan.
Adapun kebenaran relatif
yang dikandung filsafat
hanyalah kebenaran
untuk dirinya sendiri.
Bukan kebenaran
yang datang dari
Satu Pengertian.
Dari wujud kebenaran ini
mekarlah cinta yang menjadi
panggung segala pujian,
dari ujung kelopak
yang mekar tadi
tampaklah hasrat terdalam
dari puisi yang akan
muncul kemudian.
Tiga Rukun Puisi
Dari yang kutahu
Lewat lembaran waktu
Dan sketsa para pendahulu.
Maka hanya tiga saja
Rukun puisi, yaitu:
Cinta,
Peristiwa
Dan makna
Hakikat Puisi
Jalan pencarian tanpa henti
melampaui suara hati
dan realitas yang paling inti.
Lalu kata dan makna berkejaran
membentuk harmoni pengertian
dalam sembunyi
ataupun yang tampak asli.
Selamat Hari Puisi 26 Juli 2020.[]
*Penyuka prosa, memilih setia pada kata kata sejak 1994.
Kumpulan Indie Terbaru sedang disiapkan: Password Kebahagiaan dan Kamus Hujan. Menetap di Aceh Barat.





