DAYAH semakin hari terus meningkatkan peminatanya di kalangan masyarakat agar anak mereka bisa mengenyam pendidikan di dayah dengan berbagai pertimbangan. Setelah sempat mengalami banyak peristiwa, bahkan sulit mendapatkan pengakuan sebagai lembaga pendidikan asli Aceh, Indonesia, pendidikan dayah kini dihadapkan pada masalah baru.

“Perkembangan teknologi sangat pesat, yang mengubah seluruh aspek kehidupan termasuk cara pandang masyarakat terhadap dayah. Secara tidak langsung dayah dihadapkan pada dua pilihan, dia harus menampakkan “wajah baru” atau mempertahankan sisi tradisional, khas dan unik,” ujar Teungku Mulyadi Geudong, guru senior Dayah MUDI dan akademisi IAI Al-Aziziyah Samalanga itu.

Teungku Mulyadi menyebutkan bukan tidak mungkin dayah harus berganti wajah karena itu adalah keharusan. Dayah adalah lembaga pendidikan yang bertujuan mendidik dan menggembleng para santri dengan menjadikannya juru dakwah agama bagi kalangan masyarakat luas. Tujuan tersebut tentu harus bersinergi dengan cara yang mestinya dilakukan dayah dalam mempersiapkan santri kelak setelah kembali ke masyarakat.

“Diakui atau tidak, dayah pada sisi yang lain, kekhasan dan keunikan dayah menjadi pertaruhan. Jika kemajuan teknologi tidak direspon dengan agresif, maka dayah akan tertinggal jauh dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Inilah yang kemudian menjadi problema dan tantangan dayah abad modern ini,” ulas kandidat master IAIN Malikussaleh Lhokseumawe itu.

Kata Teungku Mulyadi, “Kalau kita meminjam istilah Gus Dur, dayah merupakan sebagai sebuah ‘sub kultur’ yang khas, yang kini berada tengah-tengah kondisi itu (modernisasi)”.

“Pilihan bertahan dalam kondisi tradisional akan menyebabkan ia tertinggal jauh dari peradaban. Sehingga, mau tidak mau dayah harus merespon kemajuan tersebut dengan bijak. Satu di antaranya adalah kemajuan TIK haruslah dapat menjadi media untuk memaksimalkan peserta didik (baca:santri) dalam mengembangkan ilmu yang dia miliki,” sambung tokoh ulama muda Pase yang aktif di dunia dakwah itu.

Dalam pandangannya, santri sebagai produk dayah haruslah mulai belajar hal-hal baru utamanya teknologi. “Karena dapat kita definisikan bahwa santri hari ini bukan hanya santri yang pandai membaca kitab kuning, namun gagap teknologi. Bukan pula mereka yang hanya paham ilmu ulama salaf tanpa tahu ilmu ulama khalaf”.

“Mereka haruslah paham terhadap kenyataan, mengerti situasi kekinian, dapat menyelesaikan problem sosial dengan sikap arif dan dan berlandaskan hukum yang benar, tanpa terlepas dari tradisi yang dipegang oleh ulama terdahulu,” ujar Abi Mulyadi Geudong.

Di sinilah peran pondok dayah untuk mencetak santri yang diharapkan itu. Sudah waktunya pondok dayah dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk mempermudah santri menuntut ilmu, memperluas ruang dakwah dayah dan mempertimbangkan efektivitas belajar. Karena dengan teknologi, ilmu pengetahuan dapat diserap atau disajikan tanpa batas. Kemajuan ini adalah angin segar bagi dunia pendidikan dayah dan dunia Islam sendiri.[]