BANDA ACEH – Toleransi beragama diharapkan mampu menjadi pemersatu bangsa dan mewujudkan masyarakat bersosial.
Hal tersebut mengemukan dalam Lomba Debat Publik bertema Mengangkat Nilai-Nilai Kebhinekaan sebagai Pemersatu Bangsa, di Museum Aceh, Sabtu 27 Februari 2016, dimulai pukul 10:00 Wib hingga selesai.
Dalam kata kata sambutannya, Ratna Sari, selaku ketua panitia pelaksana mengatakan, acara tersebut diadakan untuk belajar bersama dan berdiskusi supaya saling menghargai dan memahami toleransi antar umat beragama.
Ini untuk demi mewujudkan masyarakat bergama dan sosial dalam masyarakat, harapannya acara ini bisa menjadi satu wadah pemersatu bangsa yang mengedepankan nilai nilai kebinekaan, debat yang kita maksudkan di sini ialah debat sehat tidak usil dan saling menghargai, kata Ratna Sari.
Acara debat semakin memanas ketika salah satu juri, Azhari, melemparkan pertanyaan pro dan kontra terhadap sebuah organisasi kepemudaan yang melalukan pelanggaran, apa harus dibubarkan atau tidak.
Acara ini merupakan acara penutupan komunitas Solidaritas Bungoeng Jeumpa acara debat ini acara yang ke terakhir sekaligus penutupan dan pembagian tropy kepada pemenang lomba.
Panitia lainnya, Sudarliadi mengatakan, dua hari sebelumnya panitia mengadakan acara lomba menulis, barongsai, dan ditutup dengan debat tersebut.
Saya harap, acara ini dapat membuka perspektif pandangam pemuda terhadap keanekaragaman agama yang ada di Aceh. Ini suatu langkah awal kita bersatu dan bersama dalam perbedaan di bawah naungan suatu ummat yang hidup rukun dan harmonis serta menjujung tinggi nilai kebhinekaan, kata Sudarliadi.
Acara tersebut, kata Sudarliadi, dilaksanakan oleh Solidaritas Perempuan Bungoeng Jeumpa Aceh (SP Aceh), diikuti ratusan peserta dan tamu undangan dari berbagai daerah, termasuk Aceh Utara dan Lhokseumawe.
Acara tersebut turut dihadiri berbagai komunitas dan organisasi, tetmasuk dari kampus yang ada di lingkungan wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Di antaranya, Komunitas Pemuda Kristen, Komunitas Pemuda Katolik, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Himpunan Mahasiswa Nias, Sekolah Keberagaman dan ASHaF (Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri).[](tyb)
Laporan Mustakim Al Bakhtiary, ASHaF (Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri).




