Oleh Taufik Sentana
Pegiat kajian sosial dan dakwah.

Tentu banyak media yang menyorot berita Deddy Corbuzier yang menjadi muallaf, yang menuntaskan proses pencariannya dengan melafalkan syahadat dengan dipandu Gus Miftah. Sempat juga ada larangan dari KPI tentang rencana me-live kan berita keislamannya di stasiun TV.

Dalam berita yang menayangkan proses keislamannya, Deddy tidak menyebutkan secara khusus sebab ia menerima Islam. Yang jelas, menurutnya tanpa paksaan.

Pada beberapa acara talk show yang ia kelola, memang tak jarang menghadirkan narasumber yang berbasis keislaman, dari da'i, profesional dan hafiz quran.

Secara spiritual, keislaman Dedi merupakan jejak Hidayah, suatu proses yang tidak ringan bila ditilik dari rekam pengaruh seorang mentalis sekaliber Deddy. Tidak ringan karena, ada pertimbangan sejarah” dan resiko tersendiri ketika ia memilih untuk berpindah keyakinan. Tapi mungkin, dalam kultur sosial ala Deddy, memilih agama baru adalah wewenang pribadinya, dan kita hanya bisa berharap dan mendoakan agar keislamannya menancap tajam dan berdampak pada humanisme dan rasionalitas Islam.

Dalam hal rasionalitas, agaknya memang menjadi poin yang penting dalam proses keislaman Dedi. Bisa saja Islam yang selama ini ia pelajari diam diam” memberikan jawaban bagi setiap pertanyaan eksistemsial yang ia ajukan pada dirinya. Karena memang, ajaran Islam akan selalu relevan dengan kapasitas akal manusia (sesuai kodran kemanusiaan) dengan ajaran yang autentik dan murni bersumberkan pada Kitab Suci yang murni dan Riwayat hadis yang valid (dengan berbagai tingkatan hadis).

Artinya, seorang Deddy Corbuzier tentunya akan lebih menggunakan nalarnya dalam mencerna dan memutuskan setiap pilihan dalam perjalanan hidupnya. Hal itu karena begitulah tradisi berpikir dan dunia kerja yang ia geluti.

Jadi akhirnya, harapan kita, keislaman sang mentalis kita ini benar benar mewarnai jalan hidayah menuju Islam yang rahmatan lil'alamin.Sebagaimana kita juga berharap agar istiqamah dalam Islam hingga akhir hayat.[]