Demokrasi dan Kapitalisme

Oleh: Thayeb Loh Angen

Penyair dari Sumatra

Tidak ada kebenaran mutlak yang dapat ditawarkan di dunia ini, apalagi tentang perpolitikan. Terlalu banyak lapisan yang harus dikupas sehingga sampai pada kesimpulan yang mendekati kebenaran.

Misalkan di Aceh, pertarungan bukan lagi antara orang baik dan orang jahat. Perbedaan antara keduanya semakin menipis. Pertarungan yang ada hanya tersedia di antara pihak mana yang memiliki sumber daya terbaik.

Sumber daya tersebut adalah tim, uang, kemasyhuran (popularitas), dan diplomasi yang baik dengan kekuasaan yang lebih tinggi. Pihak yang memiliki sumber daya terbaik akan keluar sebagai pemenang. Di dalam permainan seperti ini, faktor keberuntungan tidak berlaku. Semuanya hampir pasti.

Lihatlah di Aceh, ada partai politik nasional dan partai politik lokal yang bertarung. Pertarungan mati-matian akan terjadi. Pemilik sumber daya terbaik akan menang.

Demokrasi memungkinkan seluruh rakyat untuk memilih siapapun yang disediakan oleh partai politik. Partai politik menyediakan pilihan sesuai dengan keinginan pemimpin tertingginya yang disetujui oleh para pemodal.

Pemodal memegang peran penting dalam dunia demokrasi. Sistem perpolitikan demokrasi itu hanya ada di negara yang menganut sistem ekonomi kapitalisme.

Sebagai contoh, walaupun selama ini anda tidak dikenal, tetapi jika anda memiliki banyak uang, anda bisa masuk ke sebuah partai politik yang sudah ada atau bisa membuat partai politik baru. Dalam beberapa bulan anda menjadi tokoh besar. Itulah demokrasi.[]