ACEH TIMUR | Suara tabuhan rapa’i menggema dari sebuah Gampong Matang Kupula Sa, Kecamatan Matat, Kabupaten Aceh Timur. Irama yang menghentak berpadu dengan lantunan syair bernuansa Islami, menciptakan suasana yang khidmat sekaligus penuh semangat.

Di balik dentuman itu, tersimpan sejarah panjang tentang dakwah, budaya, dan identitas masyarakat Aceh yang diwariskan turun-temurun. Matang Kupula Sa, salah satu desa imbas Bencana Hidrometeorologi Aceh

Rapa’i Pase merupakan salah satu alat musik tradisional khas Aceh pesisir yang telah hidup sejak masa lampau dan menjadi bagian penting dalam warisan budaya masyarakat Aceh. Alat musik berbentuk gendang ini bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi juga simbol persatuan dan media penyebaran ajaran Islam pada masa lalu.

Nama “Rapa’i” dipercaya berasal dari seorang ulama dan ahli tasawuf, Ahmad Rifa’i. Sosok tersebut diyakini sebagai pencipta alat musik rapa’i yang digunakan sebagai media dakwah agar ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat. Dalam perjalanan sejarahnya, rapa’i kemudian diperkenalkan lebih luas di Aceh oleh Syeikh Abdul Kadir Jailani melalui pertunjukan seni yang memadukan tabuhan dan syair keagamaan.

Pada awalnya, alat musik ini dikenal dengan nama gendang dufun. Namun masyarakat kemudian menyebutnya sebagai “Rapa’i” untuk mengenang jasa Ahmad Rifa’i. Sementara istilah “Pase” merujuk pada wilayah Pasai di Aceh Utara, daerah yang diyakini menjadi tempat pertama berkembangnya kesenian tersebut. Dari kawasan pesisir itulah, Rapa’i Pase menyebar ke berbagai daerah dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Pada masa lalu, Rapa’i Pase sering dimainkan dalam berbagai kegiatan adat, penyambutan tamu, hingga perayaan keagamaan. Syair-syair yang dilantunkan biasanya berisi pesan moral, pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, serta nasihat kehidupan. Tabuhan yang dimainkan secara serempak melambangkan kekompakan dan semangat kebersamaan masyarakat Aceh.

Hingga kini, Rapa’i Pase masih terus dipertahankan sebagai salah satu identitas budaya Aceh. Pertunjukan ini kerap hadir dalam festival budaya, acara adat, hingga kegiatan pemerintahan sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur yang sarat nilai sejarah dan spiritual.

Selain Rapa’i Pase, masyarakat Aceh juga mengenal kesenian Rapa’i Uroh yang tumbuh dan berkembang di lingkungan pedesaan. Kesenian ini memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat sejak zaman dahulu.

Kata “uroh” dalam bahasa Aceh berarti ajakan atau seruan untuk berkumpul. Dahulu, Rapa’i Uroh digunakan sebagai media untuk memanggil masyarakat ketika akan dilaksanakan kegiatan penting seperti gotong royong, kenduri kampung, musyawarah adat, hingga kegiatan keagamaan. Dentuman rapa’i yang keras mampu terdengar hingga ke berbagai sudut kampung dan menjadi penanda bagi warga untuk berkumpul.

Seperti halnya Rapa’i Pase, sejarah Rapa’i Uroh juga tidak terlepas dari pengaruh Islam di Aceh. Para ulama pada masa itu memanfaatkan seni tabuhan rapa’i sebagai media dakwah yang lebih dekat dengan masyarakat. Syair yang dibawakan dalam pertunjukan berisi nilai-nilai keislaman, nasihat kehidupan, serta ajaran tentang persaudaraan dan akhlak.

Rapa’i Uroh biasanya dimainkan secara berkelompok dengan jumlah pemain yang cukup banyak. Para pemain duduk berbaris sambil menabuh rapa’i dengan gerakan yang seragam dan ritme yang cepat. Kekompakan menjadi daya tarik utama dalam pertunjukan ini. Semakin harmonis tabuhan yang dimainkan, semakin kuat pula energi yang dirasakan penonton.

Bagi masyarakat Aceh, Rapa’i Uroh bukan sekadar hiburan tradisional. Kesenian ini telah menjadi simbol kebersamaan, semangat gotong royong, dan persaudaraan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Meski zaman terus berubah, dentuman rapa’i tetap bertahan sebagai suara budaya yang menjaga hubungan masyarakat Aceh dengan sejarah dan nilai-nilai leluhurnya.

Rapai Sudah Mendunia

Di tengah arus modernisasi, berbagai komunitas seni dan sanggar budaya di Aceh terus berupaya melestarikan Rapai Pasee dan Rapa’i Uroh dengan melibatkan generasi muda dalam berbagai kegiatan pelatihan dan pertunjukan budaya. Upaya tersebut dinilai penting agar warisan seni tradisional Aceh tidak hilang ditelan zaman, melainkan tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern.

Rapai Pasee merupakan salah satu seni tradisional Aceh yang telah dipromosikan hingga ke tingkat internasional melalui sektor pariwisata dan diplomasi budaya. Kesenian ini dikenal memiliki irama tabuhan yang khas, harmonis, dan penuh semangat sehingga mampu menarik perhatian wisatawan mancanegara.

Berbagai promosi dilakukan melalui festival budaya internasional, pertunjukan seni, media digital, hingga event pariwisata nasional maupun internasional. Kehadiran Rapai Pasee dalam berbagai ajang budaya turut memperkuat identitas Aceh sebagai daerah yang kaya akan seni dan tradisi.

“Rapai Pasee bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga simbol budaya Aceh yang memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia kepada dunia internasional,”ujar ungkapnya,Teuku Muhammad Aidil, Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Jumat, 15 Mei 2026. [adv]