LHOKSEUMAWE Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) menilai pelayanan kesehatan di Aceh Utara masih sangat memprihatinkan. Salah satu indikatornya adalah penanganan kasus gizi buruk yang dialami bocah keluarga miskin di Dusun Batee Leusong, Gampong Seumirah, Kecamatan Nisam Antara. (Baca: Cerita Busung Lapar Dalam Gubuk Derita di Batee Leusong)
Sebagaimana pengakuan orang tuanya sudah pernah membawa bocah yang menderita itu ke puskesmas saat pertama sakit. Seharusnya saat itu kepala puskesmas langsung melaporkan kepada kepala dinas kesehatan. Kemudian secara bersama-sama mereka harus mengambil langkah cepat dan tepat terhadap bocah itu, yaitu merujuk ke rumah sakit dan memastikan perawatan yang maksimal. Jadi, tidak boleh dibiarkan begitu saja sampai bocah itu menderita sekitar dua bulan, kata Alfian, Koordinator MaTA kepada portalsatu.com, Jumat, 5 Februari 2016, malam.
Alfian menduga ada pembiaran dari kepala puskesmas dan kepala dinas kesehatan. Pasalnya, kata dia, sudah sekitar dua bulan bocah itu diduga menderita busung lapar, namun belum dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani rawat inap. Bocah bernama Fakhrul Ula itu akhirnya terpaksa dievakuasi oleh pihak Kodim Aceh Utara ke Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe, Jumat menjelang siang tadi. (Baca: TNI Evakuasi Bocah Busung Lapar Batee Leusong ke Rumah Sakit)
Setelah diperiksa dokter di ruang IGD Rumah Sakit Kesrem, Fakhrul Ula, dipastikan mengalami gizi buruk. Tadi setelah kita periksa, pasien mengalami gizi buruk. Biasanya gizi buruk memang ditandai dengan busung perut atau perut membesar, berat badannya tidak cukup untuk seusianya, nangis-nya lemah, makannya kurang, ujar dokter Andri. (Baca: Dokter: Bocah Batee Leusong Gizi Buruk)
Alfian tidak bisa membayangkan jika TNI tak turun tangan mengevakuasi bocah itu ke rumah sakit. Kata dia, anak keluarga miskin yang tidak berdosa itu diperkirakan akan terus menderita di rumahnya lantaran tak kunjung dirujuk ke rumah sakit oleh pihak puskesmas dan dinas kesehatan. Ironisnya lagi, kata dia, keluarga miskin itu tinggal di rumah yang kini terancam roboh. (Lihat: Foto Rumah Warga Miskin di Batee Leusong)
Tidak dirujuknya bocah itu ke rumah sakit oleh pihak puskesmas atau dinas kesehatan menjadi indikator pelayanan kesehatan yang sangat buruk di Aceh Utara. Ini menunjukkan kepala puskesmas dan kepala dinas kesehatan tidak tanggap, terkesan abai terhadap keberlangsungan hidup warga. Dalam kasus ini, pemerintah bisa digugat, dan kepala puskesmas dan kepala dinas kesehatan layak dicopot, Alfian menegaskan.
Alfian menyebut tidak menutup kemungkinan buruknya pelayanan kesehatan seperti itu juga terjadi di gampong-gampong lain di luar Kecamatan Nisam Antara. Kondisi tersebut, kata dia, diperparah dengan lemahnya kinerja pengawasan DPRK dan DPRA yang membidangi kesehatan, sehingga keberadaan mereka terkesan tidak bisa diharapkan.
Tugas anggota dewan yang membidangi kesehatan juga patut dipertanyakan. Jangan sampai dewan tidak tahu bahwa mereka duduk di kursi empuk itu mengemban amanah rakyat. Kita sangat menyayangkan sampai hari ini belum mendengar atau membaca pernyataan dewan di media untuk menyikapi kasus yang menimpa bocah keluarga miskin di Nisam Antara itu, kata Alfian.
Menurut Alfian, Ombudsman Aceh juga penting turun tangan dalam kasus ini, karena menyangkut pelayanan publik. Kasus ini harus ditindaklanjuti secara serius, ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara dokter Makhrozal mengakui Fakhrul Ula, bocah keluarga miskin di Dusun Batee Leusong, Gampong Seumirah, mengalami gizi buruk. Makhrozal menyebut Bidan Desa (Bides) yang ditugaskan di Seumirah telah berupaya menangani Fakhrul Ula sejak akhir tahun 2015 lalu.
Laporan yang saya terima, bulan Desember 2015, KMS-nya belum di bawah garis merah. Sudah dianjurkan kepada orang tua anak itu agar dibawa ke puskemas, tapi setelah diperiksa sekali, keluarganya tidak mau balik lagi, katanya.
Kepala Puskesmas Nisam Antara Hamidiyah Yakob juga menyampaikan hal sama. Selama ini anak itu dalam pantauan Bides, waktu itu mau dirujuk ke rumah sakit, tapi ibunya baru melahirkan, tidak mau keluar rumah untuk menemani anaknya, karena bayinya belum 44 hari, kata Hamidiyah.
Makhrozal menambahkan, salah satu penyebab gizi buruk akibat faktor ekonomi keluarga, di samping soal pengetahuan masyarakat. Karena itu, upaya pencegahan harus lebih ditingkatkan dan ini perlu koordinasi lintas sektoral. Misalnya, Dinas Sosial menangani soal kelayakan rumah untuk warga miskin, dan kita memberikan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, kata Makhrozal. (Baca: Bocah Batee Leusong Gizi Buruk, Ini Kata Kadis Kesehatan) [] (idg)



