Senin, Juli 15, 2024

Peringati Hari Bhakti Adhyaksa...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali menggelar bakti sosial (Baksos) dan...

Kapolres Aceh Utara AKBP...

LHOKSUKON - AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., kini resmi mengemban jabatan Kapolres...

Temuan BPK Tahun 2023...

BLANGKEJERN - Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan kelebihan pembayaran pada anggaran...

Pj Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menerbitkan surat keputusan (SK) tentang...
BerandaDerita Dua Anak...

Derita Dua Anak Miskin di Alue Anoe Timu

Bayi itu terbujur kaku. Hanya bola matanya saja yang berkedip-kedip dan dadanya kembang kempis secara perlahan. Namanya Darmatillah, 16 bulan, buah hati pasangan Miftahuddin (35) dan Maryani (30).

Saban hari, balita warga Desa Alue Anoe Timu, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara ini terpaksa mengkonsumsi makanan melalui selang. Sudah sembilan bulan selang tersebut menjadi teman Darmatillah yang kepalanya kian membesar itu. Menurut dokter, Darmatillah mengidap hydrocephalus–penyakit gangguan aliran cairan di dalam otak.

Aneuk long ka divonis sejak lam kandongan keun le dokter wate lon periksa baro jeh. Wate nyan dipeugah bayi na kelainan dan long suah operasi, hanjeut melahirkan normal (anak saya sudah divonis sakit sejak dalam kandungan oleh dokter waktu saya memeriksa kehamilan dulu. Waktu itu disebutkan bayi memiliki kelainan dan saya harus operasi, tidak bisa melahirkan secara normal),” kata Maryani saat dikunjungi portalsatu.com, Senin, 9 Mei 2016, siang.

Maryani menceritakan, bobot tubuh Darmatillah mencapai 2,4 kilogram saat lahir. Di usianya yang baru masuk 13 hari, bayi ini terpaksa diboyong ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh untuk menjalani operasi.

“Saat itu anak saya divonis mengidap hydrocephalus,” kata Maryani.

Dia sangat sedih dengan nasib bayi perempuannya tersebut. Ditambah lagi kondisi perekonomian keluarga yang apoh-apah, sehingga menyulitkan mereka membiayai pengobatan Darmatillah.

Ayah jih kerja hana meuteuntee, kadang na peng geupuwoe, kadang pih cuma ie reu-oh geupuwoe. Aduen jih na lhee droe, pakiban cara nyoe,” keluh Maryani.

Mata perempuan itu sembab menceritakan kondisi anaknya tersebut. Terlebih ketika mengisahkan susahnya Darmatillah mengasup makanan setiap harinya melalui selang.

Hana lon tuoh rasa nyan, meunyoe sang jeut dipeugah haba ka dilakee tulong. Pasti nyan saket that-that,” ujarnya.

Darmatillah sudah beberapa kali menjalani operasi. Menurut Maryani, bayinya juga pernah dioperasi pada usia 7 bulan karena untuk mengecek dan mengganti selang yang ada di dalam tubuhnya.

Meunyoe keu biaya rumoh saket na BPJS si nyak, keu biaya si uroe-uroe kamoe na dibantu lee ureung gampong bacut-bacut sapat keu ongkoh moto ngoen peunajoh di sideh,” kata Miftahuddin, ayah kandung bayi tersebut. “Lawet nyoe si nyak kejang-kejang, sereng cairan lam ule jih ditebit u-yup ret silang nyan. Nyoe rencana neuk me lom u Banda, teuma hana raseuki lom,” kata Miftahuddin lagi.

Miftahuddin pun menceritakan rutinitas pekerjaannya yang serabutan. Dia mengaku bekerja dengan upah harian. “Jinoe siat lon kerja bak pabrek pade gob,” katanya.

Dia mengaku bingung dengan kondisi perekonomiannya saat ini. Apalagi ada tiga orang anaknya yang sudah bersekolah.

Meunyoe na raseuki Rp50.000 si uroe, meunyoe teungoeh get raseuki na keuh Rp100.000, teuma kebutuhan jak sikula aneuk rayeuk that,” kata Miftahuddin.

Senator asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma ikut menjenguk bayi itu kemarin.

Masih di desa yang sama, nasib miris juga dialami Zulfahmi, 16 tahun. Putra pasangan Mansur (35) dan almarhumah Maryana ini menderita penyakit lumpuh layu sejak usianya 7 tahun. Saat itu, Zulfahmi sedang menikmati masa-masa indahnya di sekolah. “Namun Allah berkehendak lain. Saat itu dia terbujur lemah perlahan demi perlahan hingga seperti ini keadaannya,” ujar Ti Hawa, nenek Zulfahmi.

Dia mengatakan, awalnya dokter memvonis Zulfahmi terkena polio. Hal tersebut diketahui saat dia dibawa ke Puskesmas untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Kian hari, bobot tubuh Zulfahmi terus menyusut. 

“Jinoe nyan keuh meunoe nasib jih. Mak jih ka meninggai, jinoe long yang hiroe jih. Lon tingkue, lon suleung bu, mandum lon pubut keu cuco long nyan,” cerita Ti Hawa dengan mata berkaca-kaca.

Ti Hawa mengatakan cucunya tersebut bisa berkomunikasi dengan baik. Hanya tubuhnya saja yang tidak normal selayaknya remaja lainnya. Zulfahmi tersenyum ketika portalsatu.com menghampirinya. Saat ditanya kabarnya, remaja tersebut menjawab, “haba get.

Ti Hawa terus mendoakan agar Zulfahmi tetap tegar menjalani hidupnya sehari-hari. “Semoga aneuk nyoe jroh, walau tuboh jih hana lagee geutanyoe yang manteng sehat nyoe mandum. Aamiin,” kata Tihawa.[](bna)

Baca juga: