Oleh Taufik Sentana*
Kita mulai dari potongan kisah ini, kiranya apa yang diucapkan seorang Sahabat Baginda kita sangat menarik: ” Andai tali untaku hilang, aku akan menemukannya di dalam Alquran”. Itulah yang diucapkan Abu Bakar RA.
Mari kita renungkan makna ayat 13 di surat Al-Hadid ini:
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.
Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang (dunia) dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
Lalu kita bayangkan (hampir) lima belas abad yang lalu, saat wahyu mulia ini dibacakan
(dijelaskan isinya) dan menjadi panduan perilaku bagi generasi awal, orang orang pada masa itu belum mencapai pengetahuan tentang cahaya sebagaimana kita kenal sekarang: termasuk industri, energi dan potensi digital.
Sekarang kita telah dapat mengukur berapa kecepatan cahaya dan merekayasa cahaya itu dengan fisika kuantum untuk diaplikasikan dalam wujud produk atau energi yang lain.
Sesungguhnya, seluruh alam benda dan peristiwa yang dapat-tampak kita inderawi lewat mata, hanyalah sebab dari cahaya yang menimpa benda dan si pelaku peristiwa.
Maka ketiadaan cahaya akan melumpuhkan keberadaan bendawi kita. Kegelapan akan menghambat usaha kita dalam mencapai tujuan.
Betapa sangat indah dan halus sandingan nama Alquran yang dinisbatkan pada cahaya. Adalah istimewa saat Alquran disebut sebagai cahaya. Begitu sempurna dan halus.
Bahkan Allah swt juga Menyebut DiriNya sebagai” Cahaya yang meliputi langit dan bumi, cahaya itu meliputi hingga ke sistem kerja sel dan atom.
Cahaya Al-Quran:
Adapun dengan cahaya Alquran (Al-Qur’an), kita tidak hanya dapat membedakan antara hak dan bathil, fana dan abadi, bahkan kita dapat “melihat” (dari Berita Al-Qur’an) peta jalan sesudah kejadian kita di dunia:
Dengan cahaya itu kita dapat melihat” orang orang yang akan dibangkitkan di mahsyar, berjalan dengan wajahnya, atau orang orang yang menerima catatan amal dari punggungnya, atau orang orang dengan wajah hitam berdebu penuh takut, atau mereka yang mendapatkan minuman bersegel kasturi dan duduk di atas dipan dipan yang megah.
Kita juga dapat “melihat”peristiwa diri kita sebelum disebut manusia (belum bisa disebut apapun, sebelum menjadi janin).
Sehingga secara praktis, cahaya Al-Qur’an akan menuntun kita pada “fokus” yang paling lurus ketika mempelajari materi alam dan peristiwa keseharian yang kita alami.
Apa yang dicapai oleh sains dan teknologi sekarang telah dikonfirmasi”/diisyaratkan lewat cahaya Al-Qur’an bahwa “bumi akan berkurang dari tepian laut, gugusan langit yang bertingkat dan terpelihara, pertemuan dua laut, pergantian musim, benih benih yang tumbuh, bumi dan langit pada mulanya adalah massa yang sama (satu-padu), dst semisal itu”.
Maka bersyukur kita bila dapat menangkap cahaya Al-Qur’an itu dan menerima cahayanya sebagai acuan dalam memandang kehidupan dan berjalan lurus di arah yang mustaqim (jalan para nabi nabi).
*Taufik Sentana
Bergiat di Studi Tadabbur Alquran.
Dari Ikatan Dai Indonesia, Aceh Barat.


