Jakarta – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menjadi salah satu narasumber dalam ajang Jakarta Future Festival 2026: Navigating Resilience yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026). Dalam forum tersebut, Illiza memaparkan perjalanan Banda Aceh sebagai kota yang tumbuh dan bangkit melalui semangat kolaborasi lintas sektor.
Di hadapan peserta festival, Illiza menjelaskan bahwa nilai kolaborasi sejatinya telah menjadi bagian dari sejarah panjang Banda Aceh sejak abad ke-17. Saat itu, Banda Aceh dikenal sebagai pusat peradaban, perdagangan rempah-rempah, dan jalur perdagangan dunia yang mempertemukan berbagai bangsa.
Menurutnya, semangat kolaborasi tersebut kembali terbukti ketika Aceh menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami pada 2004. Dukungan dari berbagai pihak, baik nasional maupun internasional, menjadi kekuatan utama dalam proses pemulihan dan pembangunan kembali daerah yang porak-poranda akibat bencana.
“Alhamdulillah, pascatsunami Aceh menjadi bukti kuatnya kolaborasi kemanusiaan dunia. Ratusan pemerintah daerah, NGO nasional dan internasional, puluhan negara donor, lembaga PBB, serta berbagai lembaga keuangan dunia bersatu memberikan bantuan, menjadikannya salah satu operasi bantuan dan rekonstruksi pascabencana terbesar dalam sejarah,” ujar Illiza.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun Banda Aceh hingga saat ini. Kolaborasi, kata dia, tidak hanya menjadi strategi pembangunan, tetapi juga telah menjadi visi utama pemerintah kota dalam menghadirkan kemajuan yang berkelanjutan.
Illiza juga mengisahkan perjalanan pengabdiannya di pemerintahan, mulai dari menjabat sebagai Wakil Wali Kota Banda Aceh pada 2007, kemudian menjadi Wali Kota, anggota DPR RI, hingga kembali memimpin ibu kota Provinsi Aceh tersebut.
“Ketika saya kembali memimpin Banda Aceh, kami melanjutkan fondasi kolaborasi dan kemitraan yang telah dibangun sebelumnya. Hari ini Banda Aceh dikenal sebagai Kota Tangguh dan bahkan menjadi salah satu rujukan pembelajaran dunia dalam pengurangan risiko bencana,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Illiza turut memaparkan sejumlah program unggulan yang saat ini dijalankan Pemerintah Kota Banda Aceh. Berbagai inovasi tersebut mencakup pengembangan ekonomi kreatif, pemberdayaan UMKM, transformasi layanan publik melalui aplikasi SALEUM, peningkatan kapasitas masyarakat lewat Banda Aceh Academy, hingga pengelolaan sampah yang telah meraih penghargaan tingkat Asia.
Selain itu, Pemerintah Kota Banda Aceh juga terus memperkuat identitas daerah melalui berbagai program branding kota yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita terus memperkuat branding Banda Aceh sebagai Kota Kolaborasi dan Kota Parfum Indonesia. Melalui kolaborasi, inovasi, dan partisipasi masyarakat, kita ingin menghadirkan pembangunan yang inklusif dan berdampak langsung bagi kesejahteraan warga,” pungkas Illiza.





