Di hadapan kita bulan yang disebut Idhul Adha bulan yang diperintahkan kepada kita untuk berubudiah berkurban dan perintahnya tidak diragukan.
Dalam surah Al-Kautsar ayat 2 Allah berfirman yang artinya, “Maka shalatlah karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Takbirkan perintah shalat secara umum perintah shalat dua raka’at pada pagi Idhul Adha itu sunat melaksanakan shalat dua raka’at dan diikuti dengan berqurban.
Qurban (kurban) merupakan satu amalan sunat muakkad yang Allah buka kesempatan tersebut setiap tahun. Maka berbahagialah orang-orang yang ada Allah tinggalkan harta Allah tinggalkan kekuatan.
Pada setiap tahun di pagi hari hadir ke mesjid menunaikan perintah Allah shalat dua raka’at kemudian dilanjutkan dengan mengorbankan hartanya.
Rasulullah SAW kepada sahabat menerangkan bahwa ibadah qurban itu adalah amalan sunat yang diturunkan oleh (Allah kepada ) Nabi Ibrahim as dan berlanjut kepada Nabi Muhammad SAW dan diperintahkan kepada pada umatnya.
Faidah berqurban adalah setiap tetes darah hewan qurban yang jatuh adalah berhitung sebagai kebaikan
Ketika geutanyoe kalheuh tasie kureubeun bak thon yang ka ulikot pukeuh na sunat tasie kureubeun bak thon nyoe bak thon ukeu, pu faedah tasie kureubeun berkali-kali bila qurban itu hanya sebagai kendaraan.
Dalam satu hadits nabi Muhammad SAW menjelaskan, “Perbesarlah perbaguslah qurban kamu sesungguhnya dialah kendaraan kamu di atas shirath nanti.
‘Et saboh mantong beurayek beugagah keupu le le that. so ek, nyoe le le’, itu logikanya, nyan akai geutanyoe.
Tapi secara keimanan geutanyoe yakini Allah SWT maha tahu terhadap ibadah yang ka geutanyoe lakukan apa nanti yang akan diberikan balasan kepadanya.
Sangat perlu kita mengulang-ulang kebaikan kita tatamah-tamah kebaikan, pakon, karena dosa geutanyoe setiap hari juga bertambah-tambah. Tanyoe khawatirkan kebaikan geutanyoe hana le meutamah-tamah,tetapi keburukan-keburukan geutanyoe sabe-sabe meutamah sehingga nanti terjadi apa yang dikatakan oleh Rasul kepada sahabat
‘Apakah kalian tahu siapa orangnya yang mukhlis? Siapa orangnya yang bangkrut?
Sahabat menjawab, ‘ Orang-orang yang bangkrut dari kami adalah mereka yang tidak lagi memiliki uang, tidak lagi memiliki harta benda ia jatuh miskin ia bangkrut’
Kata Rasul, ‘yang bangkrut dari ummatku adalah dia yang nanti di hari kiamat membawa shalat, datang membawa zakat, datang membawa amal puasa, datang membawa berbagai amal kebaikannya, namun juga dia datang membawa berbagai macam dosa mengumpat orang lain mencaci maki orang lain memukul orang lain menumpahkan darah atau memakan harta orang lain yang semasa hidup tidak pernah diselesaikan.
Maka kebaikan-kebaikannya akan dibagi-bagikan oleh Allah SWT diambil kebaikannya diberikan kepada orang yang dia pukul, diambil kebaikan diberikan kepada orang yang dia caci, diambil kebaikan diberikan kepada orang yang dia makan hartanya, diberikan kepada orang yang dia tumpahkan darahnya.
Bila kebaikan-kebaikannya sudah habis diberikan kepada orang lain sementara masih ada yang menunggu belum dapat bagian maka akan diambilkan dosa-dosa orang yang dia sakiti dulu, akan diambilkan dosa-dosa orang yang dia caci maki, akan diambil dosa-dosa orang yang pernah dia makan hartanya diambilkan dosa kemudian ditimpakan kepada orang tersebut.
Sesudah habis pahala kebaikannya ditambah dengan dosa orang lain kepadanya maka jadilah ia orang yang bangkrut. Tak ada pahala sedikitpun yang ada cuma bergelimang dengan dosa-dosa orang lain yang pernah dia caci maki dia sakiti dia hina semasa hidupnya kemudian dia akan dicampakkan ke dalam neraka.
Maka untuk menghadap Allah SWT tidak cukup cuma dengan satu kebaikan kita menghadap Allah SWT, tidak cukup dengan satu qurban yang kita siapkan jangan-jangan kurban kita telah sirna hilang dengan riya kita
Jangan-jangan itu pun tidak cukup untuk diberikan kepada orang lain yang pernah kita caci maki yang pernah kita sakiti.
Dalam kehidupan sehari-hari terkadang manusia terlibat dalam kesalahan-kesalahan seperti saling mencaci mengumpat dan sebagainya.[]
Ringkasan isi khutbah di Mesjid Assaadah Tgk Chik di Paloh 9 Mei 2025, Meumasah Dayah (Paloh Dayah), Muara Satu, Lhokseumawe. Khatib oleh Tgk Zainal Abidin dari Meumasah Dayah.
Rangkuman: Jamaluddin.








