DESAU angin menampar-menampar wajah ketika saya berdiri di salah satu puncak bukit, di kawasan Lamuri, Aceh Besar. Berada tak jauh dari Pantai Pasir Putih, pemandangan di sini begitu elok, Kamis, 6 Oktober 2016.
Sejurus memandang ke barat terlihat Selat Malaka dengan hamparan Pulau Weh bersembunyi genit di balik kabut. Sementara berpaling ke utara terlihat hamparan Selat Malaka yang konon katanya sempat menjadi primadona jalur pelayaran nusantara di masa lalu. Melongok ke timur, menjulang gagah puncak Gunung Seulawah Agam. Sementara di selatan terlihat perbukitan karang, jalan berkelok yang menghubungkan Krueng Raya hingga Laweung, dan deretan pohon palem.
Berdiri di salah satu puncak bukit kawasan Lamuri seperti berada di bawah kaki langit. Awan yang berseliweran ibarat membentuk lukisan tentang semesta, Lamuri dan keagungan di masa kejayaannya.
Panorama perbukitan karang yang ada di sini juga tak kalah menarik. Syahdan diantara penduduk lokal bahkan sudah menyadari hal ini dengan membuka kawasan wisata puncak bukit, yang jaraknya tak jauh dari Pantai Pasir Putih.
Namun, sayangnya, primadona kawasan Lamuri belum terlihat begitu berarti. Keindahan alamnya seperti terabaikan tanpa promosi wisata yang terbilang 'wah' oleh institusi negara. Padahal banyak destinasi wisata baru yang bisa dikembangkan di daerah minim penduduk ini. Seperti misalnya membuka wisata paralayang, kelas melukis di alam bebas, pusat perkemahan, dan mungkin hal lain yang bisa mengundang wisatawan.
Dengan jalan meliuk ke kiri dan kanan, sesekali menanjak dan tak jarang menurun, di lokasi ini juga dapat direkomendasikan pelaksanaan even-even seperti sepeda santai, jalan santai, dan juga lari maraton. Apalagi di sepanjang jalur terdapat beberapa spot wisata, seperti situs Lamuri, pantai Pasir Putih, pantai Aramanyang, pemandian Ie Seuum, benteng Malahayati atau Inong Balee, benteng Indrapatra, pantai kuliner Ujong Kareung, pantai Ujong Batee, dan tugu pendaratan pertama Jepang di Aceh.[]


