Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaNewsDi Misbahul Ulum...

Di Misbahul Ulum Aku Menemukan Cinta

Satu hari yang lalu, tepatnya di tanggal 18 Agustus 2016, penulis sempat membaca tulisan salah seorang pengajar di Misbahul Ulum, yang sering disebut dengan panggilan Ustat (dalam Bahasa Arab). Iaitu, tulisan yang ia poskan di laman Facebooknya yang berjudul “Ala Kadar HUT RI KE-71di Misbahul Ulum Sangat Meriah”.
 
Mungkin siapa sahaja yang pernah mengenal dayah modern, baik di mana saja tempat dayah itu berada. Sungguh tidak asing lagi untuk mendengar dan menyebut nama ustat. Karena sudah terbiasa dalam melafazkannya, apalagi di setiap hari-harinya becakap dengan bahasa Arab.   
 
Saiful Zahari, demikianlah nama salah seorang ustat yang telah melukis cerita, kenangan yang teramat indah itu ke dalam tulisannya. Dari apa yang ia ceritakan tersebut, kesemuanya itu mengenai tentang rasa, adakala cintanya kepada Misbahul Ulum, peserta didik yang ada di sana dan juga kepada sesama mereka-mereka yang pengajar di sana.
 
Salah seorang ustat tersebut, telah melebur ke dalam cintanya itu. Bagaimana akan keindahan, kebahagian yang tengah dirasakan olehnya, oleh pengajar-pengajar lain dan oleh semua peserta didik (Santri/ah) yang ada di sana, semampu dan semuanya telah ia nadakan ke dalam hikayatnya.
 
Bagi anda-anda yang pernah menjadi, merasakan dunia santri, pasti akan terputar kembali, pada sejuta kenangan, bermilyar cinta yang pernah dirasakan, dialami di masa-masa menjadi santri dulu. Walau puluhan tahun anda-anda itu, telah tidak lagi berada di sana.
 
“Ingin rasanya untuk kembali, mengulang lagi akanpada suasana itu,” penulis yang juga pernah menuntut dan sudah tamat dari Misbahul Ulum sejak tahun 2009 lalu, berguman di dalam hati.
 
Kerana memang besarnya cinta ini, dan juga di Misbahul Ulum. Pertama sekali mengerti, menemukan cinta. Dan sampai pada sa’at menulis buih-buih rasa ini, penulis yang merupakan salah seorang alumni ke 12. Belum pun mampu untuk membalas besarnya rasa yang jatuh di cintanya itu.   
 
Adapun cerita yang ia tuliskan, iaitu tentang kegiatan mereka. Yangmana sehari sebelumnya, tanggal 17 Agustus. Ustat dan semua santri di Misbahul Ulum, Paloh tersebut, mengadakan acara di kala menyambut hari kemerdekaan yang sudah mencapai tahun ke 71 tersebut.
 
Adalah tanggal 17 di bulan Agustus. Yangmana di setiap tanggal tujuh belas tersebut, masyarakat Indonesia merayakan tahun ulang dari awal kemerdekaan bagi negeri Indonesia. Dari Sabang sampai Marauke, pasti merayakan hari besar yang di waktu perayaannya itu terdapat berbagai macam acara.
 
Dan juga kala melihat akanpada foto-foto yang turut diposting olehnya itu, kesekian kalinya bergejolak rasa di hati ini. Untuk kembali lagi ke masa-masa itu.
 
“Bila aku bisa memutar waktu, seketika akan memelukmu. Bila aku mampu mengendarai itu, sekejap mata akan berada di sisimu. Namun apa dayaku hanya lewat do’aku, kan kusertai setiap malam-malamu.”
 
Penulis belum ingin mengakhiri cerita ini, namun berakhir sudah ceritanya di sini, Banda Aceh, 19 Agustus 2016. Semoga kita semua dalam kesehatan dan diberkahi dengan umur panjang. Salam santun, salam sukses untuk kita semua. Misbahul Ulum di atas dan untuk semua golongan.[]

Laporan: Syukri Isa Bluka Teubai

Baca juga: