SIGLI – Hasil produksi padi musim tanam (MT) gadu tahun 2020 di Kabupaten Pidie sangat memuaskan. Per hektare petani menuai hasil 5,8 hingga 5,9 ton padi.
Pantauan portalsatu.com/ di sejumlah lokasi dalam dua pekan terakhir, para petani sedang memanen tanaman padi di sawah mereka. Rata-rata kondisi tanaman padi subur dan tidak jauh beda dengan musim MT rendengan.
Hanafiah, petani Gampong Labui, Kecamatan Pidie, Rabu, 26 Agustus 2020, mengatakan hampir semua lahan di wilayahnya kali ini ditanami padi dan tidak ada yang gagal panen. Padahal, menurutnya, tahun-tahun sebelumnya, wilayah tersebut tidak pernah menanam padi pada musim gadu lantaran tidak tersedianya air yang cukup.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur kepada Allah atas rezeki yang diberikan kepada kami tahun ini. Semua sawah kecukupan air dan hasil panen memuaskan,” ujarnya.
Hal senada juga diutarakan Ketua Kelompok Tani Labui Jaya, Marzuki. Biasanya, lahan sawah di kawasan tersebut hanya bisa ditanami padi sekali dalam setahun yakni pada MT rendengan. Kalau tanam gadu, mereka tidak bisa menanami persawahan dengan padi karena kekurangan air.
“Setiap tahun, biasanya kami hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun. Pada MT gadu, kami memanfaatkan lahan untuk menanam palawija. Tapi tahun ini karena curah hujan tinggi dan tersedianya air maka kami olah lahan untuk menanami padi dan hasilnya pun memuaskan,” ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, Ir. Sofyan Ahmad, Rabu, 26 Agustus 2020, mengatakan tahun ini ada pemanfaatan lahan sawah untuk menanam padi MT gadu seluas 23.000 hektare lebih yang tersebar di belasan kecamatan.
Menurut Sofyan Ahmad, total lahan sawah di Pidie seluas 24.787,72 hektare, terdiri dari tiga jenis sawah, yakni sawah irigasi seluas 23,134,70 hektare, sawah tadah hujan 1.649,40 hektare, dan sawah rawa seluas 3,62 hektare.
“Saat ini sudah hampir semua sawah selesai panen dan dari laporan petugas lapangan hasil produksinya lumayan dengan rata-rata per hektare 5,9 ton. Memang ada beberapa lokasi yang kurang produksinya, karena kekurangan pasokan air akibat irigasi yang sudah rusak,” ujarnya.[]



