Karya: Taufik Sentana*
Sepi dan tanya
membuka celah celah resah.
bingkai diri yang rapuh
dan keping keping kisah
sang jiwa
yang meronta-mencari,
memecah sudah
kacakaca peristiwa.
Kilatan waktu begitu tajam
mungkin akan menyakitkan
bila dikulum dendam.
Sedang jejak jejak kaki
akan hilang jua
kecuali yang dijejak
diatas jalan sembah.
Disini kita menghimpun kenangan
agar tak menjadi sesalan
di ujung jalan.
Tersebut dari lisan Mulia,
bahwa sekenang sujud
mencahaya indah
hingga ke tanah abadi.
Disana pula
kita ingin disambut gembira.[]
*Penyuka prosa eksistensial.


