<!–StartFragment–>Oleh T.A. Sakti*<!–EndFragment–>

Pada Senin, 5 Oktober 2020, saya bersama Tgk Hasyem Piah di suatu kedai kopi di Darussalam, Banda Aceh.

Hasyem Piah adalah seorang pengarang hikayat, like, dan cae Aceh. Dia menulis sejak remaja, telah menghasilkan puluhan judul buku sejenis hikayat dalam bahasa Aceh dan Melayu.

Di usianya yang ke 86 tahun, dia masih sanggup berjalan kaki menjual buku karyanya dari satu pintu ke pintu toko/kdai ke kedai lainnya.

Sebagian orang membeli kitab/buku yang dibawanya bukan karena kebutuhan, tetapi atas kasihan kepadanya yang berjalan kaki disengat siang tadi, pukul 12:15 WIB.

Dia tinggal bersama keluarganya di Piyeung Mon Ara, Montasik, Aceh Besar. Dia terus berangkat menjual “hikayat” sambil berjalan kaki ke seluruh Banda Aceh dan Aceh Besar hampir setiap hari, kecuali hari Jumat dan Ahad.

Dalam dua hari itu dia istirahat. Pada perjumpaan yang ke sekian kali ini saya “membeli” dua buku karayanya, berjudul, Melati dan Dendang Melayu.[]

<!–StartFragment–>*Budayawan Aceh.<!–EndFragment–>