BANDA ACEH – Seorang pasien menuding petugas medis di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh mengabaikan dirinya sehingga ia “jatuh ke lantai”. Namun, humas rumah sakit itu menyebut pasien dimaksud “membuat onar hingga menjatuhkan diri ke lantai”.

Pasien tersebut, Samsul Bahri (49), warga Julok Tunong, Aceh Timur, kepada portalsatu.com/ lewat telepon seluler, Senin, 10 Desember 2018, siang, menceritakan, awalnya ia menemani istrinya Hermayanti (35), yang dirawat di RSUZA setelah menjalani operasi cesar. Samsul Bahri mengaku dirinya mengalami demam tinggi, sehingga menelepon adik kandungnya, Senin, sekitar pukul 01.30 WIB dinihari, meminta untuk dibawa ke ruang IGD menggunakan kursi roda.

“Saya dalam kondisi demam menggigil, tim medis yang bertugas di Ruang IGD tidak melayani. Hampir setengah jam saya duduk di kursi roda. Sehingga saya jatuh ke lantai dalam kondisi tak sadarkan diri,” ujar Samsul Bahri.

Dia menjelaskan, sebelumnya keluarganya sudah meminta tolong kepada dokter di IGD, tapi tidak mendapat respons. Bahkan, kata Samsul, saat meminta bantuan kepada petugas pengamanan di IGD untuk mendapatkan penanganan dari dokter itu pun tidak terwujud.

Menanggapi laporan tentang kejadian itu, Sekretaris YARA, Fakhrurrazi, mendesak Plt. Gubernur Aceh mengevaluasi pihak RSUZA. Dia menilai ada persoalan di bidang pelayanan kepada masyarakat (pasien) di rumah sakit itu. Padahal, lembaga kesehatan pelat merah tersebut, kata dia, telah meraih penghargaan prestisius tertinggi untuk pelayanan kesehatan di level nasional, yang terbaik untuk kategori RSUD Tahun 2018 diberikan oleh SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit).

“Jika seperti ini layanan yang diberikan untuk apa penghargaan setinggi langit, dan pemberian penghargaan sebesar itu patut dipertanyakan bagaimana cara mendapatkannya pelayanan yang terbaik,” ungkapnya.

Dari beberapa temuan, kata Fakhrurrazi, masih ada masalah terutama terkait pelayanan yang diberikan RSUZA terhadap masyarakat Aceh terkesan tidak sepenuh hati dan masih jauh dari standar pelayanan yang baik. “Untuk apa penghargaan jika hak-hak pasien diabaikan, rumah sakit ini pelayanannya menyangkut nyawa orang, bukan pelayanan mengurus KTP. Saya mendesak Plt. Gubernur Aceh mencopot direktur RS ZA,” kata dia.

Sementara itu, Humas RSUZA, Rahmadi, menjelaskan Samsul Bahri yang merupakan keluarga pasien di Ruangan Arafah 3, datang ke Ruangan IGD, pukul 01.30 WIB, dini hari. Samsul Bahri yang mengalami demam tinggi datang lewat pintu belakang IGD diantar oleh keluargnya dengan cara didorong menggunakan kursi roda.

Menurut Rahmadi, saat yang bersamaan dari pintu depan IGD datang pasien rujukan dari RS Kesdam, dengan kondisi penurunan kesadaran, dan di ruangan resusitasi pasien yang sedang dirawat mengalami sekarat. Sehingga dr. Mira, dokter jaga IGD melayani pasien penurunan kesadaran yang dirujuk dari RS Kesdam itu.

Rahmadi melanjutkan, usai merawat pasien sekarat itu, dr. Mira datang kepada Samsul Bahri dan menanyakan  keluhan pasien. Keluarganya menjawab bahwa Samsul adalah keluarga pasien sudah tiga hari menjaga istri yang sedang dirawat di Ruangan Arafah.

“Dokter Mira menjelaskan ke keluarga yang mengantarkan bahwa ada pasien gawat. Harus menangani pasien gawat terlebih dahulu,” kata Rahmadi melalui telepon seluler, Senin, 10 Desember 2018.

Berdasarkan keterangan tim medis di Ruangan IGD, kata Rahmadi, pasien Samsul Bahri sempat membuat onar dengan modus menaiki kaki ke meja dokter jaga, lalu menendang meja dokter, selanjutnya menjatuhkan diri ke lantai.

Selanjutnya, kata Rahmadi, salah seorang petugas mengangkat Samsul Bahri ke tempat tidur. Selang beberapa menit, dr. Mira datang dan memeriksa Samsul Bahri, lalu memasang infus di tubuh pasien.

“Saat pasien itu menjatuhkan diri ke lantai, keluarga pasien lain sempat heran kenapa bisa begini. Saat ini kondisi pasien Samsul Bahri sudah mambaik,” jelas Rahmadi.[]    

Penulis: Khairul Anwar