BANDA ACEH – Eskalasi kekerasan yang cenderung meningkat dalam pertarungan politik Pilkada Aceh saat ini terjadi karena ketidakmampuan pasangan calon dalam mewujudkan Pilkada damai. Apalagi dinamika kekerasan tersebut dinilai tidak berasal dari pasangan calon sendiri, melainkan sebab musabab di tingkat basis, terutama di tim sukses masing-masing kandidat.

Demikian pendapat yang disampaikan Wakil Ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, Muhammad MTA, menyikapi mulai maraknya aksi kekerasan menjelang Pilkada Aceh tahun 2017.

“Potensi konflik yang berpotensi besar terjadinya kekerasan, selalu diawali dari metode kampanye yang masih berakar dari dialektika politik masa lalu, yaitu dialektika kekerasan,” tulis Muhammad MTA dalam akun facebooknya, Senin, 2 Januari 2017.

Dia menyebutkan, tentunya semua pihak sangat mengharapkan penghentian politik kekerasan di Aceh. Apalagi sebelum mengarah kepada kekerasan yang berpotensi jatuhnya korban jiwa.

Menurut Muhammad MTA, jika konflik Pilkada ini terjadi maka akan menambah masalah besar di Aceh. Diantara masalah-masalah tersebut adalah bertambahnya yatim dan janda, ibu kehilangan anak, dan keluarga yang kehilangan saudaranya.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, PR masa lalu saja terkait korban belum terselesaikan secara baik dan benar,” ujar MTA lagi.

Dia menyerukan kepada semua pihak untuk benar-benar mewujudkan Pilkada damai dan bermutu di Aceh. Caranya adalah dengan kampanye politik programatik kerakyatan yang bertujuan memperkuat kesejahteraan berbasis persaudaraan.

“Mari kita dorong pihak kepolisian benar-benar bekerja secara baik dan profesional, menjadikan hukum sebagai mahkota keadilan. Insya Allah, Aceh terus damai,” kata MTA.[]