Bila ada jalan yang dapat menembus jiwa dan hasrat manusia, maka diolog menjadi salah satu jalannya. Apalagi berkaitan dengan interaksi terhadap anak, ini berlaku untuk rentang usia berapapun, dengan perbedaan pada konteks dan waktunya.
Lewat dialog yang efektif dan terstruktur serta penuh jujur, maka akan terbangun sikap mental yang positif dan kemajuan pribadi, ataupun penyelesaian kreatif. Dengan dialog pula kita dapat merasakan getar perubahan perilaku yang mengarah pada positif atau negatif.
Sebagian pakar psikologi setuju bahwa dialog dapat meringankan gejolak batin, bahkan bisa menyehatkan. Bila dikaitkan ke anak, katakanlah, hingga ia dewasa dan mandiri, maka kebiasaan dialog ini akan membantu perkembangan aspek intelek, mental dan sosialnya.
Beberapa anak, mungkin bersikap pendiam. Tapi dipercaya, bahwa sikap diamnya itu, sebagai sesuatu yang ia “pelajari”. Sehingga sulit bagi kita untuk meminta pendapatnya, menggali informasi dan membantunya dalam beberapa perkara.
Sangat bersyukur bila kita menghadapi anak yang umumnya gampang berdialog. Kita tinggal mengembangkan format dialognya atau memanfaatkan dialog itu agar lebih dalam dan bermanfaat.
Beberapa batasan dialog yang memungkinkan menjadi efektif bisa dengan pendekatan berikut:
Pertama, memperhatikan waktu dan latar mental dan fisik si anak. Untuk beberapa dialog ringan mungkin bisa di sela waktu.
Kedua, mengenal latar kegiatan si anak. Biasanya berkaitan dengan belajar, pergaulan dan pengalaman sehari hari. Termasuk tontonan relevan dan orang orang yang sering ia jumpai.
Ketiga, dialog tidak bermaksud merendahkan. Bahkan nasihat dan bimbingan hanya diberikan ketika si anak sedang membuka diri untuk hal itu. Beberapa jalan keluar, bisa saja muncul dari dialog tersebut berdasarkan cara pandang si anak lewat dialog yang kita bangun.
Keempat, mecermati (berempati) terhadap konten dialognya. Dari sini kita ingin memastikan apakah ada rasa/persepsi yang tersirat dalam dialognya. Misal, si anak mulai malas sekolah, setelah ditelisik, sebabnya karena ia malu belum bisa baca.
Kelima, terkadang kita hanya perlu mendengar dengan sedikit perhatian akan pembicaraannya, paling hanya pujian atau dorongan dari kita.
Keenam, untuk dialog yang serius membutuhkan teknik yang lebih dalam dan latihan dari waktu ke waktu. Semisal membatasi pergaulan, meningkatkan prestasi akademik dan beberapa kasus sosial tertentu.
Ketujuh, dialog yang efektif hanya dicapai dengan saling percaya, terbuka, tanpa menyalahkan dan menghujat. Dan rasa percaya itu mesti dibangun setiap hari lewat hal hal kecil. Seperti menghargai, mendukung, memberi hadiah dan menanamkan rasa betapa sayangnya kita pada si anak. Biasanya, bila pesan ini sampai, sang anak tak akan membuat kita kecewa. Sehingga kita hanya perlu dialog dialog ringan dengan tetap menjaga mutu dan misi dalam keluarga.[]
Taufik Sentana
Praktisi pendidikan Islam





