LANGSA – Petani Gampong Matang Seutui mengeluhkan keberadaan waduk di daerah tersebut yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pasalnya pembangunan waduk dinilai terkesan asal jadi. Meski mesin pembangkit air sudah ada, waduk tetap tidak bisa difungsikan. Hal itu disampaikan Geuchik Gampong Matang Seutui, Kecamatan Langsa Timur, Jafar, kepada portalsatu.com, Selasa, 19 Januari 2016.

Akibatnya kata Jafar, puluhan hektar area persawahan di Langsa Timur khususnya di Gampong Buket Pulo, Matang Seutui, Matang Panyang dan Simpang Wie mengalami kesulitan air. Sebab selama ini tidak ada sumber air yang digunakan warga selain tadah hujan.

“Kami sangat berharap waduk yang telah dibangun pada tahun 2014 lalu dapat difungsikan bagi para petani. Waduk yang telah dibangun ini asal jadi tidak bermanfaat sedikit pun padahal warga sangat butuh untuk kebutuhan pertaniannya,” ujar Geuchik Jafar.

Menurut Jafar, waduk yang luasanya diperkirakan mencapai 10 hektar itu rencananya untuk menampung air yang dihubungkan langsung dari sungai Neubok Punti. Selanjutnya didistribusikan ke sawa milik masyarakat di empat desa tersebut.

Namun kata dia, waduk yang dibuat bukan berdasarkan keinginan masyarakat, melainkan berdasarkan keinginan pihak terkait.

“Kemudian dibangun pun cuma sampingnya yang dibeton, padahal kita minta dikeruk sekitar satu meter setengah atau dua meter kedalamannya, anggaran 850 juta hanya beton samping saja jadi apa yang bisa kita katakan,” ujarnya.

Terkait hal ini katanya, ia sudah menyampaikannya pada Wali Kota Langsa saat melihat langsung kondisi waduk tersebut. Pada saat itu kata dia, Wali Kota Usman Abdullah berjanji akan membangun kembali waduk tersebut sesuai kebutuhan masyarakat.

“Alhamdulillah, sekarang kabar yang  kami dapatkan bahwa di tahun ini akan dinormalisasikan kembali waduk Matang Seutui dengan anggaran 5 miliar dari APBK. Mudah-mudahan terealisasi sesuai harapan dan kepentingan masyarakat, karena sumber kehidupan kami di sini hanya di bidang pertanian,” katanya.

Jika waduk itu rampung dibangun dan berfungsi seperti yang diharapkan kata Jafar, sawah yang selama ini hanya bisa satu kali tanam bisa menjadi dua kali tanam.

“Untuk area lahan tadah hujan sekarang hanya satu kali tanam karena hanya mengandalkan tadah hujan. Tapi kalau waduknya jadi maka kebutuhan air cukup,” kata Jafar.

Amatan portalsatu.com, waduk yang berada tak jauh dari areal perkebunan kelapa sawit itu telah dipenuhi rumput.[] (ihn)