JAKARTA – Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, membuka acara Halal Bihalal dan Forum Silaturahmi Aceh Meusapat yang digelar Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Kantor BPPA, Jakarta Pusat, Ahad, 30 Juni 2019. 

Kegiatan yang mengangkat tema “Dialog Pembangunan Ekonomi Aceh Hebat”, itu dihadiri Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar, Muzakir Manaf, Tarmizi A. Karim, Teuku Riefky Harsya (anggota DPR RI asal Aceh), Azhari Cage dan Kautsar (anggota DPRA), Mawardi (Bupati Aceh Besar), Sudirman dan Fachrul Razi (anggota DPD RI asal Aceh), Abdullah Puteh (anggota DPD RI terpilih hasil Pemilu 2019), Fauzi Husin (mantan Kepala BPKS Sabang), dan sejumlah tokoh lainnya, termasuk Teuku Wisnu, artis dan pengusaha berdarah Aceh di Jakarta. Turut hadir sejumlah Kepala SKPA.

Dialog ekonomi tersebut menampilkan empat pembicara, yakni Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Zainal Arifin Lubis, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Dr. Ir. Hamman Riza, M.Sc., Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof. Dr. Syamsul Rizal, M.Eng., dan Kapala Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aceh, Ir. Sabri Basyah. Diskusi dipandu Nezar Patria, wartawan senior di Jakarta yang merupakan putra Aceh.

Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dalam sambutannya saat membuka Forum Silaturahmi Aceh Meusapat, mengatakan Pemerintah Aceh akan menindaklanjuti hasil diskusi tersebut. “Bagi kami, kritik adalah vitamin. Semua forum diskusi yang membahas tentang Aceh akan kita follow up, kita tindak lanjuti. Saya berharap semua diskusi tentang Aceh ada penyaluran lebih lanjut. Semua kita harus bergerak bersama membangun Aceh,” ujar Nova.

Nova turut menyinggung tren penurunan angka kemiskinan dan pengangguran di Aceh. “Penurunan angka kemiskinan dan pengangguran memang terjadi di Aceh, tapi tidak signifikan,” katanya.

Menurut Nova, sektor swasta di Aceh belum bergerak. Selain itu, investasi di Aceh belum begitu memuaskan. Bahkan, kata dia, penurunan investasi membuat pertumbuhan ekonomi Aceh bergerak sangat lamban. 

Nova berharap berbagai persoalan tersebut turut dibahas dalam dialog pembangunan ekonomi Aceh, sehingga menghasilkan suatu masukan bagi Pemerintah Aceh dalam membangun provinsi berjuluk Serambi Mekkah ke arah lebih baik lagi.[](*)