Karya: Jamaluddin Sulaiman*
Terus menyusuri
Jalanan berkabut
Seperti ada sebuah kota dalam jiwa
Dilihat dari ketinggian harapan sang pejuang
Tanah yang subur
Air sungai jernih
Kicauan burung-burung di reranting rimba
Tiba di halaman
Tiang-tiang yang dahulu tempat berkibar kain pusaka kini telah kosong lusuh dan rapuh
Telah menjadi dilema ketika mengharapkan negeri digantinya dengan harta
Menyerang fikiran saat perang berkecamuk musuhmu melakapmu sebagai Sang Pejuang Jalan Hitam
Mereka membawa seikat bunga
Saat diserahkan tangkai berdurinya untukmu namun bunganya untuk mereka
Pada rakyatmu engkau dituduh mencoba mencuri bunga hingga tangan terluka
Terus terluka
Tanganmu akan terus terluka dan berdarah bila tidak mencoba untuk berhenti mengambil
Musuh-musuh yang dihadapi bukanlah mereka yang bertubuh kuat dan perkasa
Hanyalah para murid Snouck yang terlihat lemah berjubah dan bijak dari seberang yang lihai memutar janji-janji mengelabui
Yang tanpa henti
Melarangmu keluar dari kubangan penghambaan[]
Minggu 26 Juli 2020/Loh Angen/024.[]
*Penyair dari Teluk Samawi (Lhokseumawe).





