LHOKSUKON – Belasan gampong dalam tiga kecamatan di Aceh Utara kesulitan air bersih karena sumur mengering sejak akhir Januari 2016 lalu. Guna mencukupi kebutuhan air bersih untuk minum dan memasak sebagian warga harus membeli di pedagang pengecer, sedangkan warga yang tidak mampu terpaksa memanfaatkan air yang mengalir di parit-parit kecil.
“Sudah beberapa bulan terakhir warga kesulitan air bersih di gampong. Sumur kering kerontang. Selama ini warga memanfaatkan air mengalir di parit kecil yang ada. Jika ada turun hujan sehari saja, maka warga akan menampungnya agar dapat dipakai untuk minum dan memasak,” kata Sekgam Beurandang Dayah, Abdullah saat ditemui portalsatu.com, Sabtu 9 April 2016.
Ia menyebutkan, kondisi serupa juga dialami warga Gampong Beurandang Krueng, Beurandang Asan, Seupeng, dan Drien Dua, Kecamatan Cot Girek. Padahal jarak ke lokasi PDAM hanya 8 kilometer.
“Satu bulan saja tidak hujan, maka warga akan kesulitan air bersih. Andaikan saja PDAM dari Asan Krueng Kreh bisa dialirkan ke gampong kami, maka tidak ada lagi masalah saat kemarau melanda. Di sini terdapat 122 Kepala Keluarga (KK) dengan 400 jiwa lebih. Rata-rata warga mencari nafkah sebagai petani sawah dan kebun,” jelasnya.
M Ali Piah, 50 tahun, warga Gampong Beurandang Dayah menambahkan, sejak lima bulan terakhir ia menggali sumur di pinggir parit, mengingat sumur di rumahnya sudah kering.
“Saya dan keluarga gunakan air ini untuk segala kebutuhan. Mulai dari masak, minum, mencuci hingga mandi. Untuk beli air tidak punya uang. Lagi pula jarak ke tempat air isi ulang mencapai 1 kilometer. Sementara banyak warga lainnya menggunakan saluran atau parit yang berada di areal perkebunan sawit,” ucapnya.
Geuchik Cot U Sibak, Kecamatan Lhoksukon, Ismail mengatakan, sebagian warga juga memanfaatkan air saluran yang menyerupai parit untuk mencuci dan mandi. Bahkan yang tak punya uang juga pakai untuk masak dan minum. Bagi warga yang sedikit berpunya lebih memilih memberi air di pedagang pengecer Rp 5ribu per jerigen.
“Air saluran itu sangat keruh, bahkan juga menjadi tempat minum ternak. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi rutinitas tahunan saat kemarau. Warga Blang Aman dan Buket Seuntang juga merasakan hal yang sama. Padahal jarak ke PDAM hanya 3 kilometer. Hingga saat ini pipa lama yang telah hancur milik PDAM dari Cot U Sibak hingga Meunasah Nga tak kunjung diperbaiki, padahal sudah digali masyarakat. Katanya 2016 dipasang yang baru, tapi sampai saat ini tidak ada kabar,” katanya.
Sementara itu, Geuchik Lhok Incin, Amriadi menyebutkan, di Kemukiman Buah, Kecamatan Baktiya Barat terdapat sembilan gampong yang kesulitan air bersih saat kemarau. Masing-masing, Cot Laba, Lhok Incien, Matang Paya, Meunasah Pante, Beurandeh Paya, Cot Murong, Meunasah Hagu, Blang Rhea, dan Paya Bateung.
“Warga miskin memilih mengangkut air sumur masjid untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan warga mampu beli air di pedagang pengecer Rp 5ribu per dua jerigen ukuran 22 liter. Menyoe musem khueng lage nyoe awak ba ie nyan omset rayek di Kemukiman Buah,” katanya.[](tyb)




