Oleh: Amalia Safitri*

Sejak akhir tahun 2019 hingga saat ini wabah virus corona jenis baru Covid-19 telah menjadi sebuah pandemi yang menyerang hampir sebagian besar negara termasuk Indonesia. Karena penyebaran yang begitu cepat, virus corona ini telah menyebabkan outbreak di beberapa negara. Hal ini menyebabkan munculnya kebijakan seperti physical distancing, isolasi, hingga karantina. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga telah diterapkan di sejumlah wilayah di Indonesia sebagai upaya untuk menekan angka kenaikan kasus penularan yang begitu pesat. 

Kebijakan-kebijakan yang dilakukan untuk memerangi Covid-19 nyatanya juga memiliki dampak yang cukup besar. Banyak fenomena psikologis seperti kecemasan, psikosomatis, hingga depresi terjadi akibat pandemi virus corona. Tidak hanya pada segi kesehatan namun pandemi ini juga menyerang dan mencederai sosial ekonomi Negara dan masyarakat. Terjadinya PHK besar-besaran, hilangnya sumber penghasilan, dan gulung tikarnya usaha-usaha mikro, kecil dan menengah. Namun dampak ini menjadi awal mula bencana yang sama besarnya yaitu kelaparan. Dilansir dari CNN Indonesia (2020) pandemi virus corona bisa meningkatkan jumlah orang yang kelaparan di seluruh dunia mencapai hingga dua kali lipat. Menurut World Food Programme (WFP) tahun ini akan ada sekitar 265 juta orang mengalami kerawanan pangan akibat resensi ekonomi dan kehilangan pekerjaan karena pandemi (CNN Indonesia, 2020). Menanggapi hal ini tentu banyak dilema yang dirasakan oleh pemerintah dimana kesehatan dan memutuskan rantai penyebaran menjadi prioritas namun potensi kelaparan dan krisis ekonomi juga mengintai. 

Kerawanan pangan hingga kelaparan dapat mengganggu kelangsungan hidup manusia. Kelangsungan hidup fisiologis dianggap sebagai motivator paling dasar manusia dalam bertingkah laku atau mengarahkan perilakunya. Oleh karena itu bukan tidak mungkin akibat tidak terpenuhinya kebutuhan dasar seperti pangan ini dapat mengarahkan tingkah laku individu bahkan masyarakat dalam kondisi kelaparan massal untuk menjadi menyimpang atau bahkan menimbulkan konflik. Hal ini kemudian akan menjadi masalah lainnya bagi lingkungan sosial dan Negara. Kerawanan pangan atau kelaparan dapat memicu berbagai jenis konflik dan pelanggaran kebijakan (Brinkman & Cullen,2011). Pada penelitian Coughron (2016) didapati bahwa kelaparan memiliki hubungan dengan tingkat kasus kriminal seperti perampokan, penjarahan, dan pencurian. Lebih lanjut Brinkman dan Cullen (2011) berpendapat bahwa konflik sipil terjadi hampir secara eksklusif di Negara-negara dengan tingkat pembangunan rendah dan tinggi kerawanan pangan atau kelaparan. Selain itu dampak dari kelaparan juga dapat mempengaruhi kesehatan mental masyarakat. Kerawanan pangan serta kelaparan meningkatkan stress baik pada orang tua maupun anak-anak, sehingga menimbulkan konsekuensi negatif bagi kesehatan mental mereka (Coughron, 2016). Maslow (1943) menegaskan bahwa gagal atau  terancamnya kebutuhan dasar manusia (fisiologis) dapat menjadi ancaman psikologis yang dapat merusak kemampuan individu untuk berfungsi. 

Maslow (1943) mengemukakan bahwa individu berperilaku dan bergerak dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hierarkis. Di dalam teori Hierarki kebutuhan Maslow (1943) manusia haruslah dapat memenuhi kebutuhan pada hierarki pertama yaitu kebutuhan fisiologis sebelum bisa melanjutkan untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya yaitu rasa aman. Pangan adalah salah satu kebutuhan fisiologi yang paling penting dan mendasar, dimana jika individu tidak mampu memenuhi kebutuhan ini maka kebutuhan lainnya yaitu rasa aman tidak akan didapatkan. Hal ini juga dapat menjadi penjelasan ketika muncul fenomena dimana masyarakat nekat untuk terus bekerja diluar rumah dengan resiko akan terinfeksi Covid-19. Apakah mereka aman dari bahaya, rasa sakit, atau masa depan yang tidak pasti? Pada tahap ini mereka akan tidak akan termotivasi untuk mengarahkan perilaku mereka ke arah mendapatkan perlindungan dan kebutuhan keamanan diri dari berbagai ancaman (Boundless.com, 2016). 

Pada beberapa pemberitaan juga didapatkan bahwa masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah kebawah seperti pekerja atau buruh harian lebih takut kelaparan dibandingkan terinfeksi virus corona. Dilansir dari suaraJatim.id (2020) seorang ibu rumah tangga di kabupaten Jember, Jawa timur mengaku lebih takut anaknya kelaparan dibandingkan terinfeksi virus corona. Masyarakat di sekitar juga mengatakan hal yang sama dan masih terus nekat bekerja di luar rumah, padahal seluruh wilayah di Jawa timur sendiri sudah menjadi zona merah penyebaran Covid-19 dengan kasus positif Covid-19 yang terus meningkat (Kompas.com, 2020). Pernyataan seperti “kami lebih takut kelaparan dibandingkan corona” terus muncul dikalangan masyarakat khususnya masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah, dimana hal ini sangat kontras dengan usaha pemerintah untuk memutuskan rantai penularan. Berdasarkan anjuran WHO (2020) ditengah pandemi virus corona (Covid-19) sangatlah penting untuk menjaga kesehatan agar tidak mudah tertular. Namun kesehatan ditengah kelaparan apakah mungkin? Masyarakat butuh mengkonsumsi nutrisi yang cukup untuk tetap sehat dan memiliki tingkat stress yang rendah untuk menjaga sistem imun tetap kuat (Puspitasari, 2020). Namun faktanya, masyarakat terancam kelaparan, sekaligus terancam tertular virus corona ketika berusaha menghindari kelaparan. Kebijakan PSBB menjadi tidak efektif, dan berakibat pada penambahan kasus positif Covid-19 dapat terus meningkat dengan pesat dan akan semakin lama pulih dari pandemi dikarenakan dilema-dilema yang terjadi saat ini.

Kelaparan ditengah pandemi bisa menjadi mimpi buruk Indonesia bahkan lebih buruk dari krisis moneter yang pernah terjadi pada tahun 1997-1998 di Asia dan juga tentunya Indonesia. Saat ini sektor ekonomi Indonesia sedang terpuruk, bahkan sebelum pandemi, angka kemiskinan di Indonesia masih tergolong cukup tinggi dengan 9,41%  per Maret 2019 (BPS, 2019) dengan total 24,97 juta jiwa masyarakat di Indonesia tergolong miskin. Angka kemiskinan ini bisa saja akan terus meningkat selama pandemi karena banyak masyarakat khususnya yang bekerja harian tidak dapat beraktifitas dikarenakan pandemi virus corona. Penyebab kelaparan di Indonesia ditengah pandemi menjadi lebih kompleks, dimana terjadinya pembatasan impor besar-besaran, kelangkaan barang dan lonjakan harga yang drastis namun juga daya beli masyarakat yang sangat rendah setelah kehilangan pekerjaan. Situasi ini harus bisa diatasi untuk menghindari dampak-dampak yang jauh lebih besar. Memastikan tersedianya barang, dan stabilitas harga yang terus dijaga saja tidak cukup. Harus ada strategi langkah tanggap darurat serta mitigasi yang disusun dan diaplikasikan secara nyata untuk dapat menghindari bencana kelaparan dengan skala nasional. Upaya pencegahan dan mitigasi ini tidak bisa jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja, seluruh lapisan masyarakat haruslah paling berkontribusi. Ada upaya dasar namun fundamental yang dapat dilakukan untuk mencegah kelaparan ditengah kondisi pandemi ini.

Pentingnya Alturisme dan Empati di tengah kondisi pandemi dan ancaman kelaparan

Pertama adalah Alturisme dan berempati. Kesadaran sosial terkait kondisi lingkungan disekitar haruslah sangat diperhatikan. Pendemi virus corona membuat ruang gerak menjadi sangat terbatas, namun harus disadari juga bahwa kita tidak sendirian, ada kerabat, tetangga, rekan kerja yang bisa jadi sedang berada dalam kesulitan. Semua orang harus lebih peka dan berempati ditengah pandemi ini. Ketika seseorang mampu merasakan dan peduli terhadap apa yang risakan oleh orang lain, maka akan lebih cepat tanggap untuk menolong orang lain dan tidak akan menghambat orang lain demi kepentingannya sendiri terlebih dahulu (Salvina,2016). 

Berdonasi untuk makanan bisa menjadi salah satu hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat yang memiliki kecukupan. Saat ini sudah banyak organisasi-organisasi kemanusiaan mulai melakukan penggalangan untuk donasi makanan. Jika tidak mampu berdonasi banyak, bersedekah sebungkus makanan kepada tetangga atau orang yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya disekitar kita sudah sangat membantu. Coba kita analogikan, jika satu orang saja membantu satu orang lain tiap harinya, 24.97 juta jiwa masyarakat miskin yang terancam kelaparan di Indonesia bisa tertolong oleh 242. 73 juta penduduk lainnya. Sejak dulu budaya tolong menolong dan berbagai sudah ada di Indonesia diwariskan secara turun temurun. 

Agrikultur sebagai upaya efektif meningkatkan ketahanan pangan dan memerangi kelaparan

Solusi lainnya adalah suitainable food dan urban farming. Langkah ini dapat secara nyata mampu mengatasi kelaparan. Apa itu suitainable food dan urban farming? suitainable food atau makanan berkelanjutan adalah program yang dapat dicoba oleh pemerintah untuk mencegah atau mengurangi dampak kelaparan. Program ini telah banyak diterapkan oleh organisasi-organisasi yang berkecimpung untuk membantu mengatasi kemiskinan dan kelaparan di berbagai wilayah seperti organisasi FAO, Committee on Agriculture (COAG), dan National Sustainable Agriculture Coalition (NSAC) (United Nations, 2017). Program ini dilakukan dengan cara mengubah sektor pertanian wilayah yang terdampak kelaparan. Pemerintah dapat memberikan pendanaan untuk membantu masyarakat untuk menyediakan makanan untuk diri mereka sendiri dengan cara berkelanjutan yaitu bercocok tanam atau berkebun. Hal ini cukup efektif untuk memerangi kelaparan dan mampu menciptakan pasokan makanan masyarakat menjadi lebih stabil.  

Indonesia dikenal sebagai Negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah pada sektoral pertanian, namun nyatanya pertanian tidak lagi menjadi sektor utama yang digiati di Indonesia. Padahal pertanian memiliki peran konvensional terkait fungsi ketahanan bahan pangan. Pentingnya ketahanan pangan semakin meningkat dan sektor pertanian berkontribusi dua kali ebih efektif dalam mengurangi kemiskinan dan kelaparan dibandingkan sektor lainnya (Weingartener,2000). Masyarakat Indonesia harus mengubah pola perilaku konsumtif yang sudah bergeser jauh dengan mengingikan segala sesuatu serba instan termasuk bahan pangan. Berdasarkan data Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertahanan Nasional, terdapat tanah terlantar seluar 2.055.088 hektar. Belum lagi perkarangan, kebun-kebun. Dan lahan non produktif lainnya. Jika lahan ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan bangan dengan memprioritaskan tanaman pangan yang cepat berproduksi seperti umbi-umbian, sayur, dan tanaman usia pendek lainnya maka bukan tidak mungkin kelaparan dapat diantisipasi atau dicegah dalam waktu yang dekat. Lalu selanjutnya urban farming atau Pertanian perkotaan dapat menjadi solusi yang juga selaras dengan penyedian makanan berkelanjutan. Tidak perlu mengubah wilayah perkotaan menjadi lahan pertanian, tetapi cukup menyediakan teras-teras rumah, atap-atap gedung, atau halaman kecil untuk diubah menjadi sumber penghasil pangan. Ditengah dibatasinya ruangg gerak diluar rumah, alih-alih hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun, masyarakat dapat mulai menanam atau berkebun secara mandiri untuk menyediakan bahan pangan sendiri. Namun gerakan menanam makanan sendiri secara berkelanjutan ini haruslah digalakkan secara masif, semua lapisan masyarakat harus melakukannya agar dapat memberikan hasil secara nyata dan efektif dalam memerangi kelaparan ditengah pandemi ini. Masyarakat tidak harus memilih kelaparan atau sakit, karena masyarakat memiliki hak untuk menghindari keduanya. Jika kelaparan dapat diatasi maka faktor terbesar yang menghambat Indonesia untuk mengkondusifkan dan memutus rantai penularan sudah tidak ada lagi. 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. (2019). Presentase penduduk miskin Maret 2019 sebesar 9.41persen. diakses pada 29 April 2020, dari http://www.bps.go.id/pressrelease/2019/07/15/1629/persentase-penduduk-miskin-maret-2019-sebesar-9-41-persen.html.

Brinkman, J.H & Cullen S. H. (2011). Food insecurity and violent conflict: causes, consequences, and addressing the challenges.World Food Programme.

Caughron,J.R. (2016). An examination of food insecurity and its impact on violent crime in American communities. All Theses. 2565.

CNN Indonesia. (2020, April, 22). Orang kelaparan bisa bertambah dua kali lipat akibat corona. Diakses dari http://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200422014740-255-495884/orang-kelaparan-bisa-bertambah-dua-kali-lipat-akibat-corona.

Maslow, A.H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370-396.

Puspitasari, I. (2020). Pola hidup sehat lawan covid-29. Diakses pada 28 April 2020, dari http://farmasi.ugm.ac.id/id/pola-hidup-sehat-lawan-covid-19.

Selviana. (2016). Membangun empati. Buletin KPIN, 2(12). Diakses dari https://buletin.l-pin.org/index.php/arsip-artikel/99-membangun-empati.

United Nation. (2017). Committee on Agriculture (COAG) Sustainable Development Knowledge Platform. United Nation, department of Economic and Social Affairs. Diakses dari  https://sustainabledevelopment.un.org/index.php?page=view&type=30022&nr=165&menu=3170.

Weingärtner, L. (2000). Food and Nutrition Security Assessment Instruments and Intervention Strategies, Background paper No. I. Food and Agriculture Organization of the United Nations. Diakses dari http://www.fao.org/docrep/x8200e/x8200e00.htm.

World Mental Healrh. (2020). Advice for public. Diakses pada 20 April 2020, dari https://www.who.int/emergencies/disease/novel-coronavirus-2019/advice-for-public. 

Boundless. (2020). Theory of Motivation. Diakses pada 17 Mei 2020, dari https://courses.lumenlearning.com/boundless-psychology/chapter/theories-of-motivation/

SuaraJatim.id. (2020). Tak gentar corona, Ibu penjual rujak: Saya lebih takut anak kelaparan. Diakses pada 17 Mei 2020, dari https://jatim.suara.com/read/2020/04/01/133316/tak-gentar-corona-ibu-penjual-rujak-saya-lebih-takut-anak-kelaparan.[]

*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Syiah Kuala.