PERNAH dengar kisah “umong geuntot (sawah kentut)”. Ini kisah tentang sedikit kepura-puraan tetapi untungnya lumayan besar.
Alkisah, seorang ulee balang kentut dalam sebuah perjamuan. Bunyi angin yang ke luar dari dubur sang ulee balang sangat besar dan baunya begitu menyengat. Si empunya kentut malu bukan kepalang karena tidak bisa menahan “lubang angin” di depan khalayak.
Tetapi, dia batal malu. Pasalnya, salah satu kabinetnya langsung bersujud. “Maafkan saya wahai ulee balang, saya tidak sengaja kentut,” kata sang pembantunya, sambil menggosok-gosok perutnya.
Orang ramai pun melihat sang pembantu dengan sedikit cibiran.
Keesokan harinya, ulee balang memanggil sang pembantu. Singkat cerita, ulee balang menghadiahkan sawah saboh seungka atas “jasa” menutup malu sang tuan.
Kisah ini hampir dapat dipadu padan dengan cerita Din Minimi di Aceh. Din muncul dan membesar atas “kebodohan” Pemerintah Aceh. Kehadirannya jelas sudah membuat malu banyak pejabat pemerintahan, baik level bupati hingga gubernur.
Anehnya, perlawanan Din Minimi membuat Badan Intelijen Negara atau BIN mendapat “untung besar”. Ibarat mendapat “durian runtuh”, Kepala BIN berhasil “membujuk” Din Minimi turun gunung.
Di tulisan ini, kita tidak membahas Din sebagai wayang. Tetapi, kita membahas Din sebagai warga Aceh mantan kombatan. Munculnya orang model Din harus dilihat sebagai kegagalan Pemerintah Aceh. Kelompok itu membesar juga atas “jasa” Pemerintah Aceh yang tanpa sadar seperti geuntot ulee balang.
Tanpa disadari kasus Din Minimi dimanfaatkan banyak pihak. Mereka diistilahkan seperti “toh ek ateuh tumpok ek gajah“. Apalagi, dikabarkan Din Minimi turun bersama seratusan anak buahnya. Sejarah ini mengalahkan kisah turun gunungnya Daud Beureueh yang hanya disambut pejabat militer daerah.
Dengan berakhirnya perlawanan Din Minimi, akankah membuat wajah Pemerintah Aceh tertampar? Adakah semua pemimpin Aceh merasa “dicue tungkat?” Pertanyaannya adalah kenapa anak kita malah memilih orang lain sebagai tempat mengadu? Mengapa harus kehilangan saboh seungka demi sedikit kehormatan? Mengapa hanya karena ego kita harus kehilangan banyak hal?
Sikap Din “ka ji suet luweue trok bak tu ot” para pemimpin Aceh. Maka diperlukan pertobatan massal agar tidak ada kisah umong geuntot baro di kemudian hari. Pemimpin harus mereposisi kembali pola pikirnya agar mampu melihat potensi. Agar mampu menghindari “di–sipak keunue” oleh pihak lain.
Adakah para pemimpin Aceh hari ini bisa tersenyum atas peristiwa ini? Jika ada, maka Anda adalah “si beureukah gulam!”[]

