LHOKSEUMAWE – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lhokseumawe telah melaksanakan kegiatan Car Free Day yang bertujuan untuk mengurangi polusi udara akibat kendaraan bermotor. Pelaksanaan Car Free Day juga diisi kegiatan olahraga dengan jalan santai dan senam.

“Olahraga tersebut merupakan bentuk aktivitas fisik untuk mencegah berbagai macam penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, diabetes mellitus dan penyakit lainnya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe, dr. Said Alam Zulfikar, didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes, dr. Helizar, Kamis, 6 Desember 2018.

Olahraga yang dilaksanakan sesuai dengan yang dianjurkan oleh Menteri Kesehatan, dan WHO yaitu olahraga selama 30 menit setiap hari.

Kegiatan Car Free Day dilaksanakan setiap hari Minggu selama 10 minggu dari 23 September sampai 2 Desember 2018. Pesertanya adalah masyarakat umum yang ada di Kota Lhokseumawe dengan rata-rata yang hadir setiap minggu sekitar 500 orang.

Namun pada hari-hari tertentu jumlah peserta yang ikut mencapai seribuan orang. Acara ini sekaligus dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN).

Setelah pelaksanaan senam juga diisi dengan penyuluhan-penyuluhan kesehatan kepada masyarakat seperti penyuluhan tentang diabetes mellitus, hipertensi, demam berdarah dengue, TBC, kanker dan lain sebagainya.

Untuk memeriahkan acara, panitia juga menyediakan ratusan dorprize yang menarik dan keren. Bila bertepatan dengan hari-hari tertentu maka dorprize yang disediakan juga semakin banyak.

Sementara itu, kegiatan lainnya yang sudah dilaksanakan dalam rangka mencegah PTM dan gangguan jiwa pada tahun 2018 ialah pelatihan WEB  dengan tujuan agar semua petugas PTM yang bekerja di Puskesmas dapat membuat pelaporan berbasis WEB.

Kegiatan lainnya ialah peningkatan kapasitas petugas tentang PTM yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas petugas kesehatan, meningkatkan pemahaman faktor risiko dan pencegahan penyakit serta melakukan pengukuran penyakit tidak menular di Kota Lhokseumawe.

Selain itu, sosialisasi bahaya Narkoba di Sekolah Menengah Atas. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang penyalahgunaan narkoba dan mencegah peningkatan angka penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja yang diakibatkan oleh kecanduan. Sehingga masyarakat umum tidak dirugikan secara ekonomi atau sosial.

Perkembangan kesehatan

Untuk diketahui, perkembangan kesehatan di Indonesia sedang menghadapi situasi yang kurang menyenangkan. Indonesia masih harus berjuang keras untuk mengendalikan penyakit menular. Saat bersamaan jumlah kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) dan gangguan jiwa juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Selain itu, Indonesia harus menghadapi munculnya kembali penyakit-penyakit yang sudah tereliminasi di masa lampau. Apalagi, tidak sedikit dari penyakit-penyakit tersebut yang mengakibatkan kematian, terutama kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular.

Beberapa penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahunnya, di antaranya Hipertensi dan Diabetes Melitus (DM). Dikenal sebagai Silent Killer, Hipertensi termasuk salah satu penyakit yang berbahaya. Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah sistolik yang lebih atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah diastolic yang lebih atau sama dengan 90 mmHg.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sebesar 972 juta jiwa atau 26,4% penduduk di dunia menderita Hipertensi. Bahkan, prevalensi Hipertensi di Indonesia menunjukan angka yang lebih tinggi, yaitu mencapai 31,7%.

Sedangkan prevalensi Hipertensi di Provinsi Aceh dan Kota Lhokseumawe juga tidak dapat diabaikan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 mencatat angka yang cukup signifikan, yaitu 25,9% dan 21,5% dan sekitar 60% penderita Hipertensi berkembang menjadi stroke.

Selain Hipertensi, penyakit tidak menular lain dengan angka prevalensi yang cenderung meningkat yaitu Diabetes Melitus. Menurut Riskesdas (2013), angka prevalensi DM di Indonesia mencapai 6,9%. Sedangkan di Kota Lhokseumawe mencapai 4,9% dari seluruh penduduk.

Penyakit tidak menular lain seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), Stroke, Kanker, Thalasemia dan penyakit gangguan pendengaran dan penglihatan tetap menjadi perhatian karena menunjukan tren peningkatan setiap tahunnya. Begitu juga penggunaan napza yang terus meningkat bukan hanya pada orang dewasa, tetapi sudah merambah ke anak sekolah.

Sehingga, dibutuhkan berbagai upaya untuk meningkatkan cakupan layanan Penyakit Tidak Menular, terutama Hipertensi, DM dan pencegahan penggunaan Narkoba di kalangan remaja, agar setiap penyandang tersebut dapat menerima pelayanan kesehatan sesuai dengan standard dan tercegah dari penyakit lanjutan. Apalagi Hipertensi dan DM termasuk sebagai indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.[](adv)