BANDA ACEH – Dirjen Polpum Kemendagri RI dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Aceh (LPMA) mengadakan seminar penguatan wawasan kebangsaan dengan tema “Melahirkan Jatidiri Pemuda dalam Menjaga Kekuatan Bangsa” di Hotel Lading, Banda Aceh, Selasa, 7 Nopember 2017.
Dalam sambutanya, Dirjen Polpum Kemendagri RI yang diwakili Lilik Kriswanto, MM, mengatakan, kegiatan seminar tersebut diadakan di seluruh wilayah Indonesia dari 34 provinsi. Kegiatan tersebut, kata dia, salah satu seminar wawasan kebangsaan, yang terlaksana berkat bekerja sama Mendagri dengan Ormas dan LSM yang ada di Indonesia.
“Kita berharap para pemuda dan pemudi di Aceh bisa menjaga NKRI dari pengaruh perkembangan global yang saat ini di era sosmed,” ujar Kriswanto.
Hadir dalam seminar tersebut, Dirjen Polpum Kemendagri RI diwakili Lilik Kriswanto,S.Sos.,MM, Bustamam Ali, M.Si mewakili rektor Universitas Iskandar Muda (Unida) Banda Aceh, Askalani,S.Hi Ketua GeRAK Aceh, dan Gumarni SH M.Si Ketua LPMA Aceh.
Seminar tersebut diisi Ketua Gerak Aceh, Askalani, dan Bustaman Ali dosen Universitas Iskandar Muda sebagai pemateri.
Dalam paparannya, Askalani menjelaskan, di Aceh masih banyak terjadi korupsi, ada temuan di Aceh terbanyak Korupsi di bidang pengadaan barang dan jasa sampai 60%, izin lingkungan 10%, dari pendidikan ada 5%.
“Kita tetap mengampanyekan terhadap anti korupsi, apapun yang terjadi, dan ini hak kita bersama untuk memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya, terutama di Aceh, selama ini sangat banyak temuan terhadap hal tersebut, apalagi kasus korupsi di Indonesia itu berhubungan dengan politik,” kata Askalani.
Dalam kesempatan tersebut, Bustaman Ali menjelaskan, selama ini kemajuan teknologi IT sudah ada di depan mata kita, pemuda pemudi selama ini hidup di era global, elektronik di mana-mana.
“Seperti HP, dalam satu orang ada dua atau tiga HP. Jadi perlu mewaspadai diri agar tidak terpengaruh sehingga dapat memecah belahkan bangsa ini yang luas dari Sabang sampai Marauke,” katanya.
Ketua umum LPMA, Gumarni, menyebutkan, seminar seperti tersebut perlu digerakkan lebih kencang lagi di Aceh karena Aceh ini unik dan pola pikir masyarakat juga masih banyak skala lokal.
“Padahal kita dari Sabang sampai Marauke, harus tumbuhkan pola pikir berskala nasional dan tidak meninggalkan adat serta budaya daerah dalam membangun negeri ini,” kata Gumarni.[] (rel)



