LHOKSUKON – Enam kerbau milik salah satu kelompok masyarakat di Gampong Lhok Reuhat, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, dilaporkan mati akibat diserang penyakit ngorok. Penyakit itu kini mengancam sekitar 150 kerbau lainnya.

“Enam ekor kerbau itu mati secara bertahap sejak kemarin. Penyakit ngorok berasal dari bakteri dan sifatnya menular. Namun tidak menular langsung ke manusia. Jika tidak ditanggulangi akan berdampak kerugian besar bagi masyarakat. Kasus ini sudah dilaporkan ke dinas,” kata drh. Muzakir Anwar,  tim kesehatan hewan dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Aceh Utara kepada portalsatu.com via telepon seluler, Kamis, 3 Maret 2016.

Muzakir menjelaskan, sebelum mati biasanya kerbau atau sapi yang diserang penyakit itu akan mengalami demam tinggi, gemetar, keluar benjolan di sekitar leher, bengkak dan berakhir pada ngorok seperti suara saat sapi disembelih.

Ia menyebutkan, salah satu kelompok masyarakat pemilik peternakan di gampong itu memiliki sekitar 70 kerbau di mana enam di antaranya telah mati akibat penyakit ngorok. Selain itu, ada sekitar 150 kerbau lainnya milik kelompok berbeda.

“Upaya pencegahan penularan penyakit dilakukan dengan pemberian antibiotik dan vitamin penambah nafsu makan. Dua hingga tiga hari ke depan akan dilakukan vaksinasi massal semua kerbau yang ada. Penyakit ini menular melalui air dan kotoran,” ujar Muzakir.

Muzakir menambahkan, jika mengkonsumsi kerbau yang sudah terjangkit penyakit ngorok, maka semua isi dalam (jeroan) harus dibuang. Seperti hati, jantung, limpa, usus dan lainnya.

“Untuk daging tidak boleh diletakkan di atas meja atau dalam baskom, tapi harus digantung agar darahnya menetes turun,” pungkasnya.[]