SUBULUSSALAM – Sebanyak 16 orang Tim Pengobatan Tuberculosis Resistensi Obat (TBRO) RSUD Kota Subulussalam mengikuti pembekalan SDM dalam kegiatan peningkatan kapasitas Tim TBRO dilaksanakan Dinas Kesehatan Kota Subulussalam.

Adapun 16 Tim Pengobatan TBRO tersebut yakni dokter spesialis paru, spesialis interna, spesialis anak, spesialis patologi klinik, perawat TBRO, petugas lab, farmasi, pihak manajeman RSUD dan Dinkes Kota Subulussalam.

Kegiatan ini dibuka Direkrur RSUD Kota Subulussalam, dr. Dewi Sartika Pinem melalui Kasie Penunjang dan Logistik, Kasbar, Amd, Kep menyampaikan pihak RSUD sebenarnya sudah lama menunggu momentum tersebut, untuk mengikuti peningkatan kapasitas Tim Pengobatan TBRO.

Dikatakan, TB merupakan penyakit menular disebabkan mycobakterium tuberkulosis, proses penularan yang airborne, dan pengobatannya sering sekali membuat pasien TB kambuh yang akhirnya menjadi resisten obat.

Karena itu, pertemuan dokter spesialis, perawat TBRO, petugas lab, farmasi, pihak manageman dan Dinkes Subulussalam, kata Kasbar bisa menyatukan semangat dalam memulai pengobatan layanan TBRO di RSUD Kota Subulussalam.

“Tentunya dengan memulai membekali SDM yang terlibat, harapan kita bersama selesai pelatihan nanti, kita langsung bisa membuka layanan TBRO. Dan saya mengimbau kepada kita semua bekerjalah dengan hati, karena itu adalah tanggungjawab kita bersama,” kata Kasbar.

Kasbar menyebutkan, RSUD sebagai fakses tahap lanjutan harus bersiap dan berbenah dalam membuka layanan TBRO di Kota Subulussalam.

Panitia kegiatan Kasie P2PM Dinkes Kota Subulussalam, Rika Aswita, S.K.M mengatakan pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas Tim Pengobatan TBRO menghadirkan narasumber dari provinsi yakni dr. Fahmi sebagai TO PMDT GF TB Aceh, dr. Dewi Behtri. SPP. selaku TAK TB RO Rumah Sakit Zainal Abidin, dr. Yurlida sebagai Wasor TB RO Dinkes Aceh.

Terpisah, Kasie Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinkes Kota Subulussalam, Rofiana, S.K.M menyampaikan jumlah kasus TB dalam dua tahun terakhir yakni tahun 2020 sebanyak 216 kasus dari perkiraan kasus 305. Selanjutnya tahun 2021 berjumlah 202 kasus dari perkiraan kasus 305. Berikutnya tahun 2022 sampai dengan Juni terdapat 70 kasus dari perkiraan 304 kasus, dalam data yang dirilis, Senin, 13 Juni 2022 lalu.

Ia mengatakan TBC ini penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberkulosis. Sebagai kota dengan beban TB rendah yaitu sebanyak 305 kasus (Tahun 2021) masih belum bisa mencapainya. Hal ini bisa kita lihat dari kasus yang ditemukan yaitu tahun 2020 ada 216 kasus, 2021 berjumlah 202 kasus. Selanjutnya di tahun 2022 sampai Juni 70 kasus, terjadi penurunan penemuan dan pengobatan TBC.[]