BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) terdiri dari Iskandar Usman Al-Farlaky, Kautsar, Abdullah Saleh, Kartini Ibrahim, dan Yunardi Natsir mengunjungi imigran Tamil Sri Lanka yang terdampar di pantai Lhoknga, Aceh Besar, Selasa 14 Juni 2016 sore.

“Dalam kunjungan tersebut kami menyerap berbagai informasi soal keberadaan imigran. Termasuk juga melakukan kordinasi dengan perwakilan IOM dan UNHCR. Selain itu kami juga bertemu Kapolres Aceh Besar, Dandim Banda Aceh, pihak Angkatan Laut, dan masyarakat setempat,” kata Iskandar Usman Al-Farlaky, dalam siaran persnya.

Ia mengatakan, boat yang ditumpangi oleh imigran kini berada sekitar 10 meter dari daratan. Sebelumnya menurut informasi tali jangkar boat besi yang ditumpangi imigran putus sehingga boat terdampar di dekat daratan Pulau Kapuk.

“Untuk tes kesehatan petugas juga sudah memeriksa tadi. Kami sangat prihatin atas kondisi ini. Etnis Tamil Sri lanka tersebut kabarnya akan bertolak ke Australia. Secara kemanusiaan kami menyarakan agar mereka didaratkan sembari menunggu kesiapan kapal untuk berlayar kembali. Kesiapan ini termasuk permintaan bahan bakar mereka sebanyak 7000 liter. Kabarnya oli mesin juga sudah kering. Boat saat ini sudah kandas dan harus ditarik,” katanya.

Iskandar mengaku, pihaknya sudah berkonsultasi dengan pihak dinas PU agar bisa membantu alat berat sebagaimana permintaan kapolres agar kapal bisa digeser kemudian ditarik dengan tag boat PT SAI ke daerah yang aman. Saat ini posisi kapal imigran sangat tidak aman apalagi saat air surut posisi kapal bisa miring dengan sendirinya.

“Meski ini kewenangan pemerintah pusat, untuk itu pemerintah Aceh harus duduk bersama menggelar rapat kordinasi dengan DPRA, IOM, UNHCR, dan muspida plus menyikapi pola penanganan sementara imigran tersebut demi kemanusian,” katanya.[]