SUBULUSSALAM – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi Partai Aceh, Hj. Asmidar, S. Pd meninjau kesiapsiagaan RSUD Kota Subulussalam dalam menghadapi wabah covid-19 atau virus corona yang saat ini sedang mewabah di tanah air.
Hj. Asmidar tiba di RSUD Kota Subulussalam, Jumat, 20 Maret 2020 sekitar pukul 09:30 WIB didampingi Sekretaris DPW Partai Aceh Kota Subulussalam, Ardhiyanto Ujung dan beberapa stafnya.
Kedatangan anggota DPRA dapil IX meliputi Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Selatan, Kota Subulussalam dan Aceh Singkil ini, disambut Direktur RSUD dr. Dewi Sartika Pinem dan Humas Penanganan dan Pencegahan Covid-19 RSUD dr. Dewi Diana beserta jajaranya.
Didampingi Direktur dan Humas Covid-19 RSUD, Hj. Asmidar meninjau ruang isolasi yang dipersiapkan untuk menangani pasien corona. Di ruang tersebut terdapat enam tempat tidur (bed) dan di ruang ICU juga terdapat dua bed untuk isolasi.

Dalam kunjungan kerja (kunker) tersebut, Hj. Asmidar berpesan kepada para perawat menebarkan senyum dan ramah, serta berkomunikasi dengan santun kepada pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit kebanggaan masyarakat Kota Subulussalam itu.
“Tugas kita dalam memberikan pelayanan harus ramah, berjumpa dengan pasien tebarkan senyum, sampaikan dengan baik, supaya pasien aman dan tenang berobat di sini, supaya pasien itu mau dirujuk,” kata Hj. Asmidar.
Sementara Direktur RDUD dr. Dewi Sartika Pinem mengatakan hingga saat ini di Kota Subulussalam belum ada pasien positif corona, namun untuk kategori suspect ada beberapa pasien. Untuk rumah sakit rujukan di Aceh hanya ada dua yakni RSUZA Banda Aceh dan Rumah Sakit Cut Mutia Lhokseumawe.
Ia mengatakan pihaknya membutuhkan beberapa peralatan dalam menghadapi pasien suspect covid-19 seperti alat pelindung diri (APD) yang masih standar. Upaya yang dilakukan saat ini, APD diolah sendiri dengan menggunakan jas mantel hujan.
Selain itu, pihak rumah sakit juga terkendala peralatan rontgen karena alat radiologi di RSUD rusak, sehingga pasien dari Subulussalam terpaksa dibawa ke Aceh Singkil untuk pemeriksaan radiologi.
“Kendala kita alat radiologi rusak, untuk spare part kita sudah coba tapi alatnya susah dicari. Alat spare part itu yang ada di luar negeri, di Belgia,” kata Dewi Sartika Pinem.
Solusinya, jika ada dana sebenarnya bisa membeli rontgen portable yang harganya ditaksir sekitar setengah miliar. Alat radiologi jenis proteble mudah dibawa ke mana-mana karena bisa didorong menuju ke kamar pasien.
Selain itu, pihak RSUD juga menyampaikan mereka masih kekurangan mobil ambulance khususnya untuk pasien infeksi yang menular atau suspect corona.
“Kita kekurangan ambulance untuk pasien infeksi yang menular. Jadi ambulance kita terbatas, jadi selama ini campur-campur,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Hj. Asmidar mencoba mengupayakan berjuang di Provinsi Aceh untuk menambah armada RSUD Kota Subulussalam, khususnya ambulance khusus pasien infeksi menular.
“Jika ada perubahan APBA 2020 ini, kita coba usulkan untuk ambulance RSUD Kota Subulussalam,” kata Hj. Asmidar.[]






