LHOKSEUMAWE – Dr. Zulnazri, S.Si., M.T., dari Center of Excellence of Technology Natural Polymer and Recycle Plastics (Pusat Unggulan Teknologi Polimer Alami dan Plastik Daur Ulang) Universitas Malikussaleh, mengatakan limbah plastik di Aceh berpotensi diolah menjadi komposit sebagai material konstruksi untuk pembangunan berkelanjutan.
Zulnazri mengungkapkan hal itu saat menjadi keynote speaker (pembicara utama) pada International Conference on Social Sciences, Politics, and Humanities (ICoSPolHum) digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (Fisipol Unimal) secara daring, 14-15 November 2023.
Dosen Teknik Kimia itu memaparkan materi tentang “Potential for Development of Composites based on Plastic Waste and Local Natural Fibers as Sustainable Construction Materials in Aceh (Potensi Pengembangan Komposit Berbahan Dasar Sampah Plastik dan Serat Alam Lokal sebagai Bahan Konstruksi Berkelanjutan di Aceh)”.
Zulnazri menyebut permasalahan limbah plastik antara lain tidak dapat diuraikan oleh mikroba dan tak terdegradasi oleh tanah sehingga timbul masalah bagi lingkungan hidup. Di sisi lain, jumlah limbah plastik semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah populasi sehingga penumpukan sampah makin banyak.
“Plastik ini hanya dapat dipakai satu kali, karena mengandung zat karsinogen dan zat flame retardant, sehingga penumpukan semakin melimpah,” ujar Zulnazri dalam materinya dikutip portalsatu.com/, Senin (27/11).
Menurut Zulnazri, cara mengatasi limbah plastik itu hanya dengan jalan daur ulang menjadi produk yang berguna dan bernilai ekonomis. “Salah satunya dijadikan sebagai komposit yang merupakan material campuran dua bahan atau lebih yang memiliki kualitas dan nilai mekanis jauh lebih tinggi dibandingkan bahan tunggal. Bahan campuran yang digunakan dalam komposit berupa biomassa atau serat alam seperti serat tandan kosong kelapa sawit,” ungkapnya.
Data dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, produksi sampah tahun 2021 sebesar 876 m3/hari, meningkat menjadi 1.557 m3/hari pada 2022. “Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Sehingga potensi pengembangan limbah plastik di Aceh menjadi komposit sangat berpeluang untuk dijadikan sebagai material konstruksi dalam rangka pembangunan berkelanjutan,” tutur Zulnazri.
Zulnazri menambahkan limbah biomasa yang melimpah juga tersedia di Aceh, di antaranya tandan kosong kelapa sawit (TKKS), serat pinang, serat sabut kelapa, serat jerami padi, dan kulit kopi. “Serat-serat ini dapat dijadikan sebagai filler untuk menambah kekuatan komposit yang merupakan produk inovasi bernilai ekonomi tinggi”.
“Baik plastik maupun serat alam ini merupakan potensi lokal yang belum ada sentuhan teknologi dengan baik. Sehingga diperlukan perhatian lebih serius dan dukungan segenap stakeholder (pemangku kepentingan) agar impian besar kita dalam pembangunan berkelanjutan dapat terwujud,” ujar Zulnazri.
Menurut Zulnazri, aplikasi dari produk komposit antara lain struktur bangunan seperti dinding, lantai, dan atap; materials for manufacturing car dashboards (bahan untuk pembuatan dashboard mobil); outdoor furniture such as chairs and garden tables (furnitur luar ruangan seperti kursi dan meja taman); interior wals decoratuons (dekorasi dinding interior). “Composites also make up more than 20% of the airframe (komposit juga membentuk lebih dari 20% badan pesawat),” pungkas Zulnazri.[](red)





