LHOKSEUMAWE — Lembaga Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Lhokseumawe banyak mendapatkan laporan dan keluhan masyarakat terkaitnya maraknya penggunaan lem Cap Kambing oleh remaja dan anak-anak usia sekolah dasar di kota tersebut sejak dua tahun terakhir. Semua pihak diminta gencar melakukan pencegahan dan pembinaan terhadap korban.
“Kami selama ini banyak mendapat laporan penggunaan lem Cap Kambing marak di kalangan pelajar dan anak-anak sekolah dasar, dan kondisi ini sangat memperihatinkan. Pemerintah perlu melakukan upay-upaya serius untuk menangani persoalan kecanduan lem tersebut,” kata Ketua PMI Lhokseumawe Junaidi Yahya, Kamis, 22 Maret 2018.
Mantan anggota DPRK Lhokseumawe yang akrab disapa si Abang itu menegaskan, walau belum ada data konkret, namun pihaknya menduga dalam satu desa di Lhokseumawe pasti belasan sampai puluhan anak-anak sudah mencoba menghirup lem tersebut.
Katanya, zat adiktif yang terkandung dalam lem tersebut sangat berbahaya bila dihirup oleh manusia apalagi anak-anak. Zat tersebut dapat membuat kerja otak tidak stabil dan bisa merusak jaringan saraf. Akibatnya anak-anak yang terhirup zat itu bisa fly, layaknya pemakai narkoba.
“Kita selama ini kerap melakukan sosialisasi bahaya narkoba dan zat-zat sejenis di kalangan pelajar, saya rasa kali ini semua harus terlibat secara serius, terutama aparatur gampong, orang tua. bahkan bila perlu pihak kepolisian harus bisa melakukan penindakan secara persuasif kepada pengguna,” jelasnya lagi.
Upaya yang harus segera dilakukan adalah kampanye dan sosialisasi, mulai dari tingkat keluarga, dusun, lingkungan, gampong sampai ke tinggkat kecamatan. Pihaknya yang selama ini sangat konsentrasi terhadap gerakan antinarkoba selalu siap bila dibutukan terjun memberikan pemahaman bahaya lem kepada masyarakat.
Bahkan, PMI berinisiasi melakukan komunikasi lintas lembaga, terutama dengan BNNK dan kepolisian untuk mencari solusi penanganan maraknya masalah itu.
“Keluarga, sekolah dan tempat pengajian adalah tombak utama menangkal maraknya hirup lem, karena setiap saat bisa berinteraksi langsung dengan anak-anak dan memberikan doktrin positif secara terus menerus, sampai anak didik paham bahaya zat-zat yang merusak otak,” katanya.



