Taufik Sentana
Peminat Prosa dan kajian eksistensial
Dunia diciptakan memang untuk dilampaui. Entah dengan cara suci atau kotor dan licik. Dunia hanya polesan kemenangan. Bagi yang melampaui dunia dengan kesucian dirinya maka itu untuk dirinya. Demikian juga yang melampaui dunia dengan kelicikan dan keburukannya, maka itu baginya. Sebab, dunia menjadi panggung bagi siapapun. Masing masing dengan pertanggung jawabannya sendiri (likulli imriin bima kasabat rahiinah).
Maka kita pernah lihat bahwa orang orang durhaka dan penuh zalim pernah melampaui dunia, pernah menjadi pemenang di atas panggungnya, tapi apakah itu menajadi warisan yang baik bagi kemanusiaan? Atau hanya sebagai contoh buruk bagi kita.
Memang dunia tidak akan menerima kekalahan kita, tapi kita pun bisa melihat kemenangan dengan perspektif yang lain. Sama halnya dunia tidak akan pernah mau mendengar tangis dan keluh kita, tapi kita bisa memilih menangis dan berkeluh dengan cara yang berbeda.
Sepenuhnya dunia hanya kesementaraan dan kesenagannya yang tampak hanya ilusi. Ilusi yang ditangkap secara sadar dan tidak . Ilusi yang memenuhi peta memori mental dan fisik. Orang yang bercahaya hatinya akan bisa membedakan mana gambar yang tepat dari hiasan dunia, yang dengannya dia bisa melangkah melampaui dunia dengan menempuh jalan kebenaran, sebab ia tidak ingin terkurung dalam jubah dunia.[]


