Sejak waktu tercipta dan ekologi terbentuk, dunia telah menghias dirinya dengan tampilan sempurna. Namun Sang Pencipta telah Menetapkan, dunia pula tempat ujian itu dilangsungkan, ujian kesementaraan untuk mempelajari dan mengenali keabadian.

Sampai ke ujung zaman ini, setelah melewati masa para nabi, dunia yang memang sudah tua justeru semakin cantik dengan hiasannya. Semua gambaran sempurna dan kesenangan serta capaian tercanggih manusia telah kita saksikan. Kita bukan hanya bergelut dengan tanah dan batu atau mesin, bahkan kita telah bergelut dengan waktu. Hingga akhirnya kita pun lelah saat menghadapi diri sendiri.

Dan sepertinya kelelahan itu sirna dengan menatap wajah dunia, padahal wajahnya hanya bayangan dan keindahannnya hanya getaran. Sedang panggungnya hanyalah cinta dan kebencian atau ketaatan dan kealpaan, di atasnya kita menyusur batas waktu.[]

Taufik Sentana
Banyak menulis puisi dan esai.
Sangat interes pada sastra sufistik.