JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan kedua tahun 2020 mengalami kontraksi -5,32 persen, turun jika dibandingkan triwulan pertama yang tumbuh 2,97 persen.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Onny Widjanarko dalam siaran pers BI, Rabu, 5 Agustus 2020 menjelaskan, kontraksi ekonomi Indonesia tidak terlepas dari pengaruh melemahnya ekonomi global sejalan dengan pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) dan menurunnya aktivitas ekonomi domestik sebagai dampak kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19.

“Bank Indonesia melalui bauran kebijakannya akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait agar berbagai kebijakan yang ditempuh semakin efektif mendorong pemulihan ekonomi,” jelasnya.

Onny mengungkapkan, penurunan pertumbuhan ekonomi domestik terjadi di semua komponen PDB sisi pengeluaran. Konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi 5,51 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan kinerja triwulan I 2020 sebesar 2,83 persen. Sementara investasi mencatat kontraksi 8,61 persen, turun dibandingkan dengan kinerja triwulan sebelumnya 1,70 persen.

Stimulus pemerintah yang sesuai dengan pola musiman yang belum kuat juga berpengaruh pada konsumsi pemerintah yang tercatat kontraksi 6,90 persen, turun tajam dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 3,75 persen.

Selain itu, kinerja ekspor juga terkontraksi 11,66 persen akibat pelemahan ekonomi global dan penurunan harga komoditas dunia. Seiring dengan kontraksi permintaan domestik dan ekspor, kinerja impor juga mengalami kontraksi 16,96 persen.

Di sisi lapangan usaha hampir seluruhnya mengalami kontraksi kecuali infokom, pengadaan air, jasa kesehatan, pendidikan, dan keuangan, serta pertanian. Perlambatan ekonomi terutama didorong oleh kontraksi pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan, perdagangan dan penyediaan akomodasi, serta lapangan usaha industri pengolahan.

Sementara itu lapangan usaha infokom masih tumbuh meningkat dari triwulan sebelumnya, seiring meningkatnya penggunaan media digital dalam penerapan Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH). Kinerja lapanan usaha pertanian juga masih tercatat positif sejalan dengan masa panen.[rilis]