Senin, Juli 15, 2024

Peringati Hari Bhakti Adhyaksa...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali menggelar bakti sosial (Baksos) dan...

Kapolres Aceh Utara AKBP...

LHOKSUKON - AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., kini resmi mengemban jabatan Kapolres...

Temuan BPK Tahun 2023...

BLANGKEJERN - Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan kelebihan pembayaran pada anggaran...

Pj Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menerbitkan surat keputusan (SK) tentang...
BerandaNewsEks 'Paspampres' NII...

Eks ‘Paspampres’ NII KW 9 Berbagi Kisah Soal Teknik Perekrutan Gafatar

Sidoarjo – Belakangan ini masyarakat dibuat kaget dengan banyaknya orang hilang yang ternyata diketahui bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Jauh sebelumnya, ada fenomena serupa di tahun 2011 yang dilakukan oleh Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9).

Muhammad Hasanuddin tidak kaget dengan kejadian ini. Apa yang dilakukan Gafatar, kata Hasanuddin, memang sama dengan apa yang dilakukan NII KW 9. Karena menurut Hasanuddin, Gafatar merupakan sempalan dari Al Qiyadah Al Islamiyah yang merupakan sempalan dari NII KW 9.

“Akarnya sama, jadi saya tidak heran. Ahmad Musadeq (pimpinan Gafatar) kan pernah di NII tapi kemudian memisahkan diri dan membentuk yang lain,” kata Hasanuddin saat ditemui detikcom di rumahnya, Jalan Ahmad Yani, Sidoarjo, pekan lalu.

Hasanuddin merupakan mantan anggota NII KW 9. Posisi tertinggi yang pernah disandangnya adalah anggota Ketertiban, Keamanan, dan Kesejahteraan (Tibmara) atau semacam paspampres yang menjaga dan mengawal pimpinan tertinggi NII KW 9 yakni Panji Gumilang. Panji Gumilang sudah divonis penjara karena kasus pemalsuan dokumen kepengurusan Yayasan Pesantren Indonesia (YPI).

Hasanuddin bercerita, keterlibatannya dalam NII KW 9 berawal di tahun 1993. Saat itu ia secara tak sengaja bertemu dengan teman SD-nya di kawasan Rungkut tempatnya bekerja. Berawal dari ngobrol-ngobrol biasa, percakapan kemudian menjurus serius ke ranah keyakinan. Rekan lamanya itu begitu fasih berbicara mengenai agama.

Di situ, Hasanuddin merasa heran. Sepanjang yang ia tahu, dalam hal agama ketika masih bersekolah di SD, temannya kalah jauh darinya. Namun saat iutu semuanya berbeda.

Salah satu yang diingat oleh Hasanuddin adalah saat rekannya dengan fasih menjelaskan tentang surat Al Fatihah. Surat Al Fatihah yang dikatakan dia merupakan tafsir tentang kenegaraan itu mempunyai tiga unsur. Pertama adalah Rububiyah (pengatur), Mulkiyah (tempat), dan Uluhiyah (rakyat/umat).

“Saat itu saya merasa kok ada yang beda dengan yang dijelaskan dia. Saya tertarik. Kebetulan saat itu saya sedang mencari ketenangan batin,” ujar pria 45 tahun ini.

Dari situ, Hasanuddin lalu mengundang temmannya untuk datang ke kos nya di kawasan Rungkut. Seminggu sekali, mereka berbicara panjang lebar mengenai bab agama. Namun tak serta merta Hasanuddin langsung bergabung dengan NII KW 9. Butuh dua tahun bagi Hasanuddin untuk bergabung dengan organisasi tersebut.

“Saya didoktrin selama dua tahun. Tak hanya oleh teman saya, oleh temannya juga dan atasannya yang datang ke saya. Tahun 1995, saya akhirnya memutuskan bergabung,” kata Hasanuddin.

Dengan bergabungnya Hasanuddin ke NII KW 9, berarti Hasanuddin sudah melakukan hijrah sesuai yang didoktrinkan. Dalam doktrin itu, diandaikan bahwa Indonesia saat ini adalah masa jahiliyah Makkah saat zaman Nabi Muhammad SAW dan NII adalah Madinah yang sudah tercerahkan. Makkah adalah bathil dan Madinah adalah haq.

“Kalau diberi pilihan antara yang bathil dan haq, anda pilih yang mana? tentu saja pilih yang haq kan. Itu pilihan saya waktu itu,” kata bapak dua anak tersebut.

Hasanuddin mengaku dibaiat bersama sekitar 40 orang lainnya yang ia tidak kenal. Yang Hasanuddin ingat saat itu ialah ia dibaiat di rumah salah satu anggota NII di kawasan Kenjeran. Ia tak ingat jalan maupun bentuk rumahnya karena ia disuruh menutup mata sepanjang perjalanan.

Dalam baiat tersebut, Hasanuddin dan anggota baru lainnya menirukan dan mengucapkan Sapta Subaya atau 7 sumpah yang menjadikan mereka sebagai Tentara Negara Islam Indonesia. Setelah bergabung dalam NII, Hasanuddin mempunyai nama baru yakni Aziz. Posisi pertama Hasanuddin alias Aziz saat masuk ke NII adalah sebagai lajnah (seksi) transportasi dan keamanan untuk wilayah Surabaya.

Karier Hasanuddin kemudian meningkat dengan posisi yang sama namun untuk wilayah Jawa Timur. Di situ, Hasanuddin juga menerima gaji. Gaji pertama diberikan di tahun 1997 dengan nominal sekitar Rp 100 ribu an. Di tahun 1997 itu, Hasanuddin menikahi Sugemi, warga Kediri yang juga anggota NII.

“Saya dicarikan jodoh. Karena kan nggak boleh menikah dengan orang selain NII. Sebenarnya boleh sih, tapi ada kewajiban menghijrah kan bila menikah dengan orang selain NII,” terang Hasanuddin.

Tahun 1999, Hasanuddin mendapat promosi ke pusat. Ia dipromosikan langsung menjadi anggota tibmara atau pengawal ring I imam besar Panji Gumilang. Padahal untuk menjadi tibmara, seseorang harus menjadi garda maihad atau pengawal ring II terlebih dahulu.

“Saya langsung jadi tibmara. Bukan main bangganya saya waktu itu,” kenang Hasanuddin.

Dengan menjadi tibmara, Hasanuddin secara otomatis pindah ke Al Zaytun, markas besar NII KW 9 di Indramayu. Saat di Al Zaytun, gaji Hasanuddin bertambah menjadi sekitar Rp 230 ribu an plus sembako. Bukan sebuah gaji yang besar. Namun Hasanuddin tetap teguh dengan semangat pengabdian yang tinggi kepada NII.

“Gajinya kecil. Belum lagi bayar kontrakan rumah. Itu masih ditambah dengan membayar iuran seperti infak, tabungan, zakat, uang kurban, sodaqoh, dan sodaqoh khusus,” kata Hasanuddin.

Selama menjadi tibmara, Hasanuddin selalu menyiapkan keperluan Panji Gumilang. Hasanuddin adalah satu dari 60 anggota tibmara. Ia mengaku tidak sering menjadi pengawal Panji Gumilang saat melawat ke luar kota. Ia lebih sering menjadi pengawal Panji saat berada di Al Zaytun. Dengan menjadi tibmara, Hasanuddin mengaku lebih sering mendapat informasi yang pejabat di atasnya pun belum tentu mengetahuinya.

“Meski golongan saya tidak tinggi, tetapi saya lebih sering mendapat informasi yang pejabat di atas saya pun belum tentu mengetahuinya,” ujar Hasanuddin.

Lalu, bagaimana Hasanuddin keluar dari NII KW9? Dia mengaku bukan karena taubat. Namun ada masalah dalam kepemimpinan NII KW9 yang membuatnya tak sreg. Dia akhirnya pulang ke Surabaya dan memulai hidup baru di sana.

Cerita Hasanuddin mirip dengan yang terjadi di Gafatar. Hanya saja, berdasarkan penuturan sejumlah saksi, para pengikut Gafatar biasanya dibujuk lewat kegiatan-kegiatan sosial. Setelah itu, mereka 'menghilang' meninggalkan keluarga.

NII Crisis Center menyebut, Gafatar mencari simpati masyarakat melalui kegiatan-kegiatan sosial yang sifatnya membantu pemerintah. Tapi di balik itu semua, Gafatar mempunyai program yang menyimpang.

“Dengan sugesti bahwa hukum di Indonesia kacau, tidak berlandaskan Islam, maling ayam dihukum berat, koruptor di hukum ringan. Dengan itu mereka mengajak anak muda, ini lho wadahnya perubahan yaitu Gafatar,” kata pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan (40).

Dia mengungkapkan, Gafatar tidak bedanya dengan NII, namun Gafatar ajarannya lebih lengkap, karena semua konsep menjadi satu kesatuan seperti ada Lembaga Kerosulan, ada Isa Bugis yang dikomparasi menjadi satu yaitu NII dan dikomparasi lagi dari Islam, Nasrani, Yahudi, tambah komplit.

Mendagri Tjahjo Kumolo sudah memberi penjelasan mengenai ormas Gafatar. Menurut dia, organisasi itu dibentuk Ahmad Musadeq, yang pernah dipidana karena penistaan agama.

“Proses terbentuknya ormas Gafatar dimulai dari pecahnya antara Ahmad Musadeq dan Panji Gumilang yang keduanya adalah anggota NII. Kemudian Panji Gumilang mendirikan MIM dan Ahmad Musadeq mendirikan Alqiyadah Al-islamiah kemudian berubah menjadi komunitas Millah Abraham (Komar),” jelas Tjahjo.

Tjahjo menguraikan, karena Komar ini dinilai oleh MUI sebagai aliran sesat dan menyesatkan sehingga pimpinannya yaitu Ahmad Musadeq pada 2009 dipidana 4 tahun. Selanjutnya untuk menghilangkan jejak akhirnya ganti kulit menjadi ormas Gafatar yang dipimpin Mahful Muis dengan meng-cover kegiatannya bersifat sosial.

Tjahjo juga mengungkapkan, pada saat ormas Gafatar mengajukan SKT ke Kesbangpol pada 2 November 2011 ditolak, bahkan sudah 3 kali mereka mengajukan tetapi tetap tidak dikeluarkan.[] Sumber: detik.com

Baca juga: