BANDA ACEH – Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Drs. Wahyudin, M.M, mengatakan, eksport-import di pelabuhan Aceh sedang mengalami peningkatan, seperti komoditi non migas (batubara) adalah terbesar di export pada April 2018 sebesar 11,009,966. USD (Dollar Amerika Serikat).
Hal itu disampaikan Wahyudi dalam jumpa pers di Lantai 3 Aula BPS Aceh, Banda Aceh, Senin, 4 Juni 2018, untuk memberitahukan berbagai perubahan yang terjadi terhadap eksport-import di Aceh dan berbagai hal lainnya.
“Di antara banyak negara tujuan export batubara adalah terbanyak ke India, penjualannya mencapai yaitu sebesar 5.988.936 USD,” katanya.
Selain itu, kata dia, berbeda dengan komoditas udang, ikan dan lain-lain yang diekspor melalui pelabuhan Aceh, akan tetapi komoditas kopi dan rempah-rempah diekspor melalui pelabuhan dan bandara daerah lain, yakni melalui Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Tanjong Priok untuk di teruskan ke Amerika, dan melalui Bandara Kuala Namu, Sumatra Utara.
“Sedangkan dalam hal kunjungan wisatawan manca negara (wisman), pada April mengalami penurunan sebesar 13,89 persen. Sedangkan bila kategori terbanyak, sebagaimana terdata pada Januari-Mei, yang masuk melalui pintu kedatangan Aceh, wisatawan dari Malaysia merupakan masih tetap menjadi pengunjung terbanyak yaitu 10.628 orang, dan terbanyak kedua wisatawan Amerika 348 orang, dan ketiga dari Tiongkok 286 orang,” katanya.
Wahyudin mengatakan, berdasarkan hasil pendataan dari BPS Aceh pada bulan Mei 2018, beberapa komoditas yang mengalami peningkatan antara lain, ikan tongkol, ayam ras, jeruk, teri, tomat, sayur, dan jasa angkutan udara.
“Sedangkan cabai merah, cabai rawit, bawang putih, cabai hijau, dan kacang panjang sedang mengalami penurunan,” katanya.
Penyebab turunnya harga cabai merah dan lain-lain menurut Wahyudin dikarenakan meningkatnya hasil produksi panen atau stoknya banyak. Dan juga inflasi yang terjadi di Aceh disebabkan oleh meningkatnaya indek harga konsumen untuk semua kelompok pengeluaran.[](Rel)
Penulis: Jamaluddin



