WASHINGTON DC – Amerika Serikat (AS) yang kini dipimpin Presiden Joe Biden terus menahan kegiatan militer Myanmar yang melakukan kekerasan kepada para demonstran di negara itu.

Media Reuters yang diteruskan kembali cnbcindonesia.com, mengabarkan, salah satu tindakan Washington adalah membekukan dana sekira 1 miliar dolar AS (Rp 14 triliun) yang sebelumnya ingin dipindahkan junta militer Myanmar dari Federal Reserve Bank of New York.

Transaksi pada 4 Februari atas nama Bank Sentral Myanmar pertama kali diblokir oleh pengamanan Fed. Pejabat pemerintah AS kemudian berhenti menyetujui transfer sampai perintah eksekutif yang dikeluarkan Biden memberi mereka otoritas hukum untuk memblokirnya tanpa batas waktu, kata sumber itu.

mengenai hal itu, juru bicara Fed New York dan Departemen Keuangan AS menolak berkomentar mengenai.

Uang cadangan Myanmar tersebut dikelola oleh bagian dari Fed New York atau Bank Sentral dan Layanan Akun Internasional (CBIAS), di mana banyak bank sentral menyimpan cadangan dolar AS untuk tujuan seperti menyelesaikan transaksi.

Upaya untuk mengosongkan akun dilakukan pada 4 Februari, tetapi diblokir secara otomatis oleh proses yang telah diberlakukan di Fed New York sebelum kudeta.

Sumber lain mengatakan, hal tersebut karena transaksi yang melibatkan Myanmar memerlukan pengawasan ekstra disebabkan negara itu tahun lalu ditempatkan dalam “daftar abu-abu” oleh Satuan Tugas Aksi Keuangan internasional atas dugaan pencucian uang.

Panduan kepatuhan CBIAS, dipublikasikan pada tahun 2016, mengatakan pedoman Fed New York mencakup ketentuan untuk menanggapi perkembangan di negara-negara pemegang rekening.

“Departemen hukum bank akan berkomunikasi dengan Departemen Luar Negeri AS, jika perlu, untuk mengklarifikasi peristiwa terkini dan setiap perubahan yang dapat mempengaruhi bank sentral dan kontrol terkait akun FRBNY,” ucap sumber itu.

AS, Kanada, Uni Eropa (UE), dan Inggris telah mengeluarkan sanksi baru setelah kudeta dan tindakan keras militer yang menewaskan para demonstran. PBB mengatakan pada Kamis 4 Maret 2021 bahwa sedikitnya 54 orang telah tewas sejak kudeta dan lebih dari 1.700 orang telah ditangkap, termasuk 29 wartawan.[]