Ulul Azmi bersama abang kandungnya, Muhammad Razi, merasakan pahit getir di perantauan. Keduanya jatuh bangun menjual martabak dan roti canai, beberapa kali pindah lokasi lantaran kurang laku, walau sudah begadang sampai larut malam. Bahkan, adonan pernah terbuang sia-sia, kehabisan uang, hingga dua bersaudara itu harus menumpang tinggal di tempat orang lain. Namun, mereka tak putus asa, kukuh berusaha mengais rezeki, demi membahagiakan ibunya di kampung halaman.
Modal pertama hasil gadai tanah ibunya habis total. Ulul Azmi dan Muhammad Razi terpaksa menggadaikan becak, satu-satunya harta dibawa dari kampung, untuk modal kedua. Seorang pengusaha merasa iba, membantu mempromosikan martabak Ulul Azmi lewat media sosial. Setelah viral, orang-orang mulai mengantre di muka gerobak martabak itu.
“Berapa, dek,” tanya seorang perempuan dewasa kepada Ulul Azmi yang berdiri di belakang gerobak martabak, tepi Jalan Ulee Lheue-Peukan Bada, Desa Paya Tieng, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.
Ulul Azmi berdeham. Dua setengah detik kemudian, dengan wajah berhias senyum, sambil menyerahkan sebungkus martabak telur kepada perempuan itu, dia berkata, “lima ribu saja, buk!”
Selain perempuan itu, orang-orang lainnya juga datang membeli. Saat portalsatu.com/ tiba di sana, Senin, 2 Maret 2021, sekitar pukul 21.00 WIB, beberapa orang tampak duduk di atas sepeda motor, menunggu martabak dan roti cane (canai) digoreng Ulul Azmi bersama Muhammad Razi.
Ulul Azmi (18 tahun) dan Muhammad Razi (24 tahun) berasal dari Desa Lueng Baro, Kecamatan Lapang, Aceh Utara. Keduanya merantau ke Banda Aceh selepas lebaran Idulfitri tahun lalu. Ibunya, Hadijah (60 tahun), dan Eka Riah (30 tahun), kakak Muhammad Razi dan Ulul Azmi, tinggal di kampung. Sedangkan ayah mereka, M. Hasyem meninggal dunia pada November 2005 silam, saat Ulul Azmi berusia tiga tahun.
“Kata ibu saya, ayah (meninggal karena) sakit. Saya tidak tahu sakit apa,” ucap Ulul Azmi kepada portalsatu.com/, malam itu.
Azmi mengaku hanya mengenyam pendidikan sampai tamat sekolah menengah pertama di Pesantren Ruhul Islam, Matangkuli, Aceh Utara. “Sebenarnya saya masih (usia) sekolah, tapi setelah tamat SMP saya mengambil sikap untuk berhenti sekolah. Pertama, ya, karena tidak ada biaya. Kedua, saya ingin membantu abang berjualan,” ujar anak laki-laki yang lahir 17 November 2002 silam ini.
Abang Azmi, Razi, setelah tamat SMP juga tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas. Kala itu, Razi memilih merantau ke Medan, bekerja di warung menjual martabak. Sekitar tiga tahun di Medan, Razi pulang kampung.




