ISTANBUL – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menghimbau kepada masyarakat secara luas dalam mengganti konstitusi karena Turki berpeluang besar memakai sistem presidensial, bukan lagi parlementer.

Hal tersebut disampaikan Erdogan dalam sebuah pembicaraan yang diisi oleh Perdana Menteri Ahmet Davutoglu dan partai-partai oposisi. Acara tersebut membicarakan rencana menyusun butir konstitusi baru untuk menggantikan yang sekarang, kepada konstitusi sebelum kudeta 12 September 1980.

Erdogan menggambarkan, untuk mengubah konstitusi, perlu adanya sebuah “konferensi semacam survei publik” yang melibatkan warga negara Turki dalam skala besar.

Dalam sebuah artikel tahun 1995, Robert Rehm dan Nancy Cebula menyatakan, konferensi jakak pendapat sebagai “metode jajak pendapat partisipatif yang memungkinkan orang terlibat dalam merumuskan masa depan yang paling diinginkan masyarakat atau organisasi.” 

Kedua pakar tersebut menjelaskan bahwa istilah itu pertama kali digunakan pada tahun 1959 oleh Fred Emery dan Eric Trist, yang diperkenalkan untuk menggabungkan dua produsen mesin pesawat di Britania Raya.

Presiden menekankan bahwa dia sendiri akan duduk semeja dengan berbagai kalangan di masyarakat – termasuk akademisi dan media – di kompleks presiden untuk mendengarkan pendapat mereka.

“Sebagian besar negara-negara maju memiliki sistem presidensial atau semi-presidensial. Saya percaya, kami bisa mengambil langkah-langkah yang lebih kuat setelah Turki telah bergeser ke sistem tersebut. Kami tengah mencari yang lebih,” kata presiden Erdogan.[]

Sumber: Anadolu Agency (aa.com.tr)