29.8 C
Banda Aceh
Selasa, September 27, 2022

Tatkala RI Diminta Boikot Putin di G20 Bali

Tatkala RI Diminta Boikot Putin di G20 Bali

Oleh: Thayeb Loh Angen
Pujangga dari Sumatra Aceh

Jika negara lain ikut campur dalam operasi militer Rusia ke Ukraina itu, maka biarlah negara-negara tersebut ikut hancur bersama Ukraina, atau jika terjadi perang dunia ketiga karenanya, biarkanlah seluruh negara di dunia yang ikut campur hancur daripada hanya Rusia sendiri yang hilang dari peta dunia karena diserang oleh NATO.

Pada 24 Februari 2022, salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia saat ini, Presiden Rusia Vladimir Putin, melancarkan operasi militer khusus terhadap negara tetangganya, Ukraina. Sebagaimana Rusia, Ukraina merupakan bekas wilayah Kerajaan Tsar Rusia dan Uni Sovyet. Namun, Ukraina pro Amerika Serikat dan NATO (The North Atlantic Treaty Organization) atau Aliansi Pertahanan Atlantik Utara, musuh Rusia.

Perang tersebut merupakan langkah berani, yang hanya mampu diambil oleh orang sekaliber Vladimir Putin, atau dua rekan sekalibernya, di antara tiga orang yang paling kuat di muka bumi saat ini, yaitu Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Sementara Joe Biden, sebagai presiden negara adidaya (superpower) Amerika Serikat (AS), tidak dapat dimasukkan sebagai orang paling kuat. Walaupun negaranya lebih kuat daripada negara manapun di muka bumi saat ini, tetapi Joe Biden tidak dapat disebutkan sebagai manusia terkuat, karena dia kuat disebabkan negaranya yang sudah lama stabil dan kuat.

Sementara Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, tidak menjadi bintang dalam perang ini walaupun negaranya dibombardir lebih dari sebulan. Walaupun dia mampu menahan serangan Rusia, tetapi sikapnya yang memohon-mohon bantuan pada AS dan sekutunya itu memalukan sebagai seorang presiden.

Jika tidak dileburkan ke dalam semi federasi Rusia, maka Ukraina akan memiliki utang yang besar kepada Amerika Serikat setelah perang usai.

Rusia dan Dunia Islam

Sebagian penduduk Aceh, Sumatra, dan Indonesia adalah muslim. Secara politik, umat Islam mendukung Rusia yang selalu berani berhadap-hadapan dengan Barat pimpinan Amerika Serikat.

Walaupun pada awalnya Rusia melakukan itu hanya untuk unjuk kekuatan dan latihan perang, tetapi lama kelamaan negara berjuluk Beruang Merah itu merasakan bahwa dirinya berada pada pihak yang sama dengan dunia muslim, yakni, musuh Amerika Serikat dan sekutunya. Oleh karena itu, tatkala Rusia melancarkan operasi militer khususnya ke Ukraina, penduduk kepulauan ini mendukung Rusia.

Dalam rangka mengirim pasukan untuk menetralkan Ukraina, sebagai orang yang paling mengerti perpolitikan perang di Eropa, Putin telah merasakan keberadaan Rusia terancam dengan NATO melalui Ukraina. Dia dapat merasakan, sekiranya Rusia tidak menyerang Ukraina sekarang, mungkin dalam lima tahun lagi Rusia akan porak-poranda dan bubar seperti Uni Soviet.

Hal tersebut merupakan risiko yang terlalu mahal untuk Rusia, sehingga, dengan terpaksa, Putin mengampanyekan operasi militer khusus dengan kekuatan penuh ke Ukraina. Keputusan itu dia ambil walaupun dia tahu bahwa perang membutuhkan belanja mahal dan perlu mengorbankan nyawa para tentaranya. Namun, pengorbanan itu sepadan dengan jaminan keberlangsungan negara Rusia sebagai negara terkuat kedua di muka bumi saat ini.

Sikap Orang Terkuat di Dunia

Mari kita melihat sikap tiga orang terkuat di dunia terhadap perang Rusia-Ukraina, ditambah satu pemimpin negara superpower dan pemimpin negara panitia G20 tahun ini, negara kita, RI.

  1. Presiden Rusia, Vladimir Putin

Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebagai pemilik permainan ini, yang memerintahkan operasi militer khusus ke Ukraina, telah memperhitungkan segala risiko yang akan terjadi. Dia pun telah memperkirakan, pihak mana yang akan mendukungnya dan pihak mana yang akan menjadi lawannya dalam operasi militer khusus yang disebut serangan oleh AS tersebut. Namun, ada satu hal yang mungkin Putin salah perhitungan, yaitu tentang kemampuan tentara Ukraina dalam menahan serangan Rusia.

Putin terlalu percaya diri pada superioritas Rusia sebagai negara pemilik senjata nuklir dan kekuatan militer terkuat kedua di dunia saat ini. Ada kemungkinan, Putin mengira, operasi militer ke Ukraina selesai dalam satu sampai dua pekan, dengan hasil Ukraina telah didemiliterisasi dan didenazifikasi, Krimea menjadi wilayah Rusia, dan dua wilayah di Ukraina timur menjadi negara bebas dari Ukraina dan tunduk terhadap Rusia.

Putin juga tidak ingat bahwa Ukraina dan Rusia dulu sama-sama wilayah Tsar Rusia dan Uni Soviet, yang memiliki semangat tempur yang sama.

Logistik Pasukan Rusia

Satu hal lagi yang tidak diperkirakannya, yaitu persoalan logistik. Ini yang menarik. Sepanjang sejarahnya setelah Tsar Rusia tumbang, Rusia telah beberapa kali terhambat dalam memenangkan perang yang seharusnya dapat mereka menangkan hanya karena terputusnya kiriman logistik.

Sepertinya, keunggulan iklim Rusia telah membuat mereka mengabaikan keadaan tersebut. Rusia dapat memukul mundur pasukan Kaisar Prancis Napoleon Bonapate dan di lain waktu dapat memukul mundur pasukan Kaisar Jerman Adolf Hitler karena dibantu oleh iklim negara Beruang Merah itu.

Para pasukan terkuat penyerang dari Prancis dan Jerman tersebut terlalu percaya diri dengan semangat dan senjata serta strategi mereka sehingga begitu sampai di wilayah Rusia, mereka tewas berjatuhan karena salju ekstrim, bukan karena dibunuh oleh tentara Rusia. Sementara tentara Rusia sendiri telah menyiapkan diri mereka untuk iklim tersebut.

Kecuali saat menghadapi pasukan Mongol yang Rusia harus takluk di tanahnya sendiri, Negara Beruang Merah selalu mememangkan perang di wilayahnya. Namun, mereka tidak dapat memenangkan perang dengan mudah ketika mereka keluar dari pusat negerinya. Daratan luas yang beragam keadaaan, iklim ekstrim, itu keunggulan yang hanya dimiliki oleh Rusia di muka bumi ini.

Lalu, apakah persoalan tersebut dapat menghentikan operasi militer khusus Rusia dalam rangka mendemiliterisasi Ukraina? Tidak mungkin. Rusia harus menetralkan Ukraina atau negaranya hilang disapu oleh NATO dalam beberapa tahun ke depan.

Sekiranya karena melancarkan operasi militer khusus itu akan terjadi perang dunia, niscaya Rusia akan tetap mengambil risiko tersebut. Sekiranya negara lain ikut campur dalam operasi militer khusus Rusia ke Ukraina itu, maka Rusia bersikap, biarlah negara-negara tersebut ikut hancur bersama Ukraina.

Atau, sekiranya terjadi perang dunia ketiga karenanya, biarkanlah seluruh negara di dunia yang ikut campur hancur daripada hanya Rusia sendiri yang hilang dari peta dunia karena diserang oleh NATO.

  1. Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping

Presiden Tiongkok, Xi Jinping, yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah diperkirakan oleh Putin akan mendukung kebijakan Rusia. Namun, itu menjadi dilema bagi Tiongkok sendiri. Negara bekas jajahan Genghis Khan tersebut tidak mungkin membela barat dalam mengucilkan Rusia, karena, Rusia adalah tetangganya yang terkuat dan memiliki musuh yang sama dengannya.

Jinping juga tidak mungkin mendukung Rusia secara langsung karena hal itu akan membuat ekonomi Tiongkok hancur lebur. Tiongkok amat bergantung pada pasar Eropa dan dunia. Terlibat langsung dalam operasi militer khusus Rusia ke Ukraina akan membuat Tiongkok kembali ke zaman kelaparan, sebelum Xi Jinping memimpin.

Rekan Setia

Sebelum ini, saya tidak menyukai Tiongkok karena kasus Uighur di Turkistan Timur yang disebut Propinsi Xinjiang. Namun, melihat sikap Xi Jinping yang bertahan dalam membela Rusia, atau setidaknya dia menghindari menyalahkan Rusia dengan berbagai cara, aku saya mulai tertarik pada negara itu. Saya takjub membaca berita tentang sikap Xi Jinping saat menanggapi pemintaan Amerika Serikat supaya Tiongkok ikut memembargo Rusia.

Jinping menjawab dengan pepatah Cina (Tiongkok) kuno, yaitu: “Biarlah orang yang menggantungkan lonceng di leher harimau yang melepaskannya.”

Artinya, Xi Jinping tidak mahu menyeret Tiongkok yang baru bangkit ke dalam konfik antara NATO dengan Rusia. Baginya, operasi militer khusus Rusia ke Ukraina adalah akibat kesalahan AS dan sekutunya. Tiongkok tidak mungkin melibatkan diri dengan persoalan mematikan tersebut.

Kalimat itu menandakan Xi Jinping orang yang setia pada sekutunya, Rusia. Hal tersbut dapat membuat persaingan dunia seimbang, walaupun disadarinya bahwa jika terjadi peperangan secara langsung antara Amerika Serikat-NATO dengan Rusia-Tiongkok, tetap dimenangkan oleh AS-NATO.

Keberanian bersikap dalam tekanan negara yang lebih kuat merupakan sikap yang tidak mudah. Oleh karena itu, Xi Jinping akan menjaga perang yang terjadi karena operasi militer khusus Rusia ke Ukraina tidak akan meluas ke negara lain. Dengan begitu, maka beberapa pendapat yang mengatakan bahwa serangan Rusia ke Ukraina akan memicu Tiongkok menyerang Taiwan adalah salah besar.

Hanya dalam sebulan saja perang Rusia ke Ukraina telah membuat ekonomi Tiongkok melemah, termasuk banyak negara lain. Apalagi jika Tiongkok menyerang Taiwan, dapat dipastikan negara berpenduduk terbanyak di dunia, yaitu 1,3 miliar jiwa lebih, tersebut akan terpecah berkeping-keping menjadi puluhan negara baru yang lebih kecil.

Amerika Serikat Negara Tetap Superpower

Mari kita ingat bahwa Uni Soviet bubar setelah membantu Vietnam dan menyerang Afghanistan. Negara gabungan itu kehabisan uang dan tidak sanggup mempertahankan negara anggotanya. Keadaan Tiongkok saat ini sama dengan Uni Soviet saat itu, rentan dalam segala hal. Sementara Amerika Serikat, walaupun telah mengucurkan banyak uang untuk perang Vietnam, tetapi negara itu masih tetap kuat sebagai satu-satunya negara superpower setelah Uni Soviet bubar.

Hal itu juga terlihat ketika keluar dari Afghanistan baru-baru ini, Amerika Serikat masih sanggup mendikte negara lain. Itu terjadi karena Amerika Serikat telah lama menjadi negara yang stabil dalam ekonomi dan politik. Namun, tidak dengan Tiongkok. Kita jangan telena dengan bertebarannya produk Tiongkok di Indonesia dan menganggap negara itu telah berkuasa dan akan menjadi superpower. Tidak demikian keadaan dunia sekarang. Tiongkok itu punya musuh yang sangat kuat di sampingnya, yaitu India, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam.

  1. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan

Apabila Xi Jinping berada dalam dilema karena tekanan ekonomi dan keamanan dari AS-NATO, untuk menyikapi perang Rusia-Ukraina, maka Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bersikap sebagai penengah. Dia tidak ingin perang itu terjadi.

Turki merupakan negera terkuat kedua di dalam NATO, juga merupakan sahabat baik Rusia dan Ukraina. Selain itu, Rusia dan Ukraina adalah negara dekat dengan Turki. Apabila perang berlarut-larut lebih dari sebulan, maka hal itu akan mempengaruhi ekonomi dan psikologi rakyat Turki juga.

Dari psikologi Vladimir Putin yang berpengalaman dengan perang dan pemimpin dunia, dia hanya dapat mempercayai Recep Tayyip Erdogan untuk menjadi penengah. Erdogan mampu bersikap sebagai Turki, walaupun negara itu anggota dan negara terkuat kedua NATO dan pangkalan militer Amerika Serikat ada di negara Eurasia tersebut.

Erdogan juga telah memenangkan beberapa perang, secara tidak langsung, dengan mendukung pihak yang kemudian menang di Libya, Suriah, dan Armenia. Sementara Putin berada di sisi lain perang itu. Pada saat yang sama, secara langsung Erdogan menjalin hubungan baik dengan Putin, yang membuat negara terkuat di NATO, Amerika Serikat, musuh besar Rusia, berhati-hati.

Selain itu, Turki yang merupakan negara superpower di kawasan Mediterania (Laut Tengah) dan Eurasia. Putin menilai bahwasanya Erdogan cukup berwibawa untuk menjadi penengah. Erdogan dihormati oleh banyak negara, juga oleh Rusia dan Ukraina. Ini tidak dimiliki oleh pemimpin negara lain saat ini.

Dengan demikian, pembicaraan damai di Istanbul diperkirakan dapat mengubah arah perang, setidaknya mencegah bertambahnya korban jiwa.

  1. Presiden Amerika Serikat, Joe Biden

Inilah perkara besarnya. Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mengambil panggung dalam operasi militer khusus Rusia ke Ukraina. Sebagai pemimpin negara superpower, Biden mempu memerankan dirinya sesuai tingkatan Amerika Serikat di muka bumi.

Biden mendikte semua negara supaya mendukung Ukraina yang diserang oleh musuh AS dan NATO, Rusia. Walaupun ada beberapa negara kuat tidak ikut dikte tersebut, seperti Tiongkok, India, dan Pakistan, tetapi AS cukup berpengalaman untuk mewujudkan rencananya melalui propaganda dan perang media.

Selain itu, operasi militer khusus Rusia ke Ukraina menguntungkan Biden secara politik. Secara tiba-tiba, tanpa mengeluarkan modal sesatu sen pun, Biden punya panggung gratis untuk mempelihatkan betapa Amerika Serikat yang dipimpinnya masih berkuasa di muka bumi ini.

Kedaaan itu dia manfaatkan untuk membantah penilaian beberapa pihak bahwa AS telah tidak sekuat dulu karena Biden menarik pasukan AS dari Afghanistan dan pemerintah yang didukung AS kalah.

Namun, ada hal yang tidak dipahami oleh Biden sebagai presiden negara superpower, yaitu, betapa Rusia telah melihat Ukraina dan NATO sebagai ancaman yang nyata untuk Rusia. Biden masih menganggap seluruh negara di dunia masih mudah didikte. Dia tidak ingat bahwa kemajuan teknologi informasi, yang diciptakan oleh penduduk negaranya telah membuat kekuasaan dan monopoli informasi yang dulunya hanya milik AS dan sekutunya kini telah berbelah bagi.

Tatkala menyerang Saddam Husein, kita hanya melihat berita di televisi dan media cetak yang semuanya dikontrol oleh AS dan sekutunya. Sekarang, dengan kemajuan teknologi yang dipelopori oleh orang Amerika juga, dalam menit pun sampai informasi dari ujung bumi ke ujung bumi, sebelum negara Amerika Serikat sempat memeriksanya dengan rinci.

Itulah yang terjadi sehingga AS tidak dapat mengirimkan tentaranya secara langsung untuk membantu Ukraina. Apabila itu dilakukan AS, maka Rusia menembakkan senjata nuklirnya yang memicu perang dunia ketiga. Tidak satu negara pun bersedia mengambil risiko tersebut. Tidak Amerika Serikat, tidak Rusia, tidak Tiongkok, tidak NATO.

  1. Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi)

Indonesia yang secara geografis terletak jauh dari tempat operasi militer khusus Rusia ke Ukraina berlangsung, dan tidak mempunyai urusan penting secara langsung dengan negara yang terlibat pertempuran bersenjata berat tersebut, akhirnya ikut terkena biasnya.

Telah ditetapkan bahwasanya Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok Duapuluh (G20) mendatang di Bali, Indonesia, 15-16 November 2022.

AS dan Australia–salah satu sekutunya–yang merupakan tetangga RI yang memiliki militer kuat, melarang RI mengundang Vladimir Putin dalam acara tersebut. Secara politik, RI telah bersahabat dengan Rusia sejak awal negara ini didirikan. Tidak mengundang Rusia dalam pertemuan G20 merupakan hal yang tidak mungkin sama sekali.

Lalu, bagaimana cara RI menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya? Itu memang dilema yang menyebalkan. Keadaan RI yang tengah melemah didera covid harus terjebak di dalam pertikaian para raksasa dunia.

Saya tidak akan memberikan pendapat ataupun analisis tentang apa yang seyogianya dilakukan oleh Presiden Jokowi tentang itu. Hal tersebut menyangkut keamanan negara. Biarkanlah hal itu diurus oleh orang yang ahli hubungan internasional di sekeliling Presiden Jokowi.

Bagaimana Kebijaksanaan RI

Namun, andaikata saya yang dimita pendapat tentang itu oleh Yang Mulia Bapak Presiden Jokowi, maka aku menyarankan supaya Bapak Presiden RI mengunjungi Presiden Rusia, Mr Vladimir Putin, dengan rasa bersabahat erat, dan memintanya untuk mempertimbangkan kehadirannya ke Pertemuan G20 di Bali pada akhir 2022.

Akan lebih aman bagi RI jika Putin yang menolak hadir daripada Presiden RI yang tidak mengundangnya. Sekiranya Putin bersikeras datang, maka ada kemungkinan akan lebih aman jika pertemuan G20 ditunda saja dulu seraya menunggu keadaaan membaik.

Atau, pilihan yang lebih menguntungkan, Presiden Jokowi membujuk AS dan sekutunya untuk mengizinkan beliau dapat mengundang Putin di acara besar tersebut. Itu akan menghilangkan seluruh masalah yang dihadapi RI terkait operasi militer khusus Rusia ke Ukraina.

Sebagaimana sikap Erdogan dan Jinping, tidak mahu menyeretkan negaranya ke dalam perang yang tidak pernah mereka buat. Saya sebagai warga negara, juga tidak mahu RI terlibat dalam konflik antara para raksasa yang memiliki senjata nuklir pemusnah massal tersebut.

Apapun sikap yang akan diambil oleh Presiden Jokowi, kita akan melihat, apakah RI akan menjadi negara yang setia kepada sabahat seperti Tiongkok, India, dan Pakistan, dan beberapa negara lainnya.

Atau, RI mengambil langkah lain mengingat negara kepulauan ini dikelilingi pangkalan militer AS dengan Australia sebagai pemegang hulu ledaknya.

Betapa uniknya dunia ini dan peradaban manusia. Bahwasanya, walaupun para pujangga dan filosof menetangnya, tetapi perang tetap menjadi bagian daripada peradaban dunia.

Sesungguhnya, tidak ada tempat yang benar-benar aman dari perang di muka bumi ini. Adakalanya, bahkan negara yang menyatakan dirinya netral seperti Swizerland pun harus terseret ke dalam perang yang mematikan.

Jika kita tidak mampu mendamaikan negeri yang tengah berperang seperti Erdogan, maka sebagaimana pepatah Tiongkok kuno yang diucapkan Xi Jinping tadi, “Biarlah orang yang menggantungkan lonceng di leher harimau yang melepaskannya.”[]

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA POPULER

Terbaru

Elmansyur Peduli Bantu Modal Usaha untuk Kaum Disabilitas di Aceh Utara

LHOKSUKON - Lembaga Elmansyur Peduli yang berkecimpung di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, menyerahkan...

Turnamen Wali Kota CUP II Dimulai, 40 Klub Jajal Lapangan Baru Pegayo Gunakan Rumput Standar FIFA

SUBULUSSALAM - Sebanyak 40 klub desa mengikuti turnamen sepak bola Wali Kota Subulussalam CUP...

Jabatan Dirut Perumda Tirta Pase Berakhir Bulan Depan, Pemkab Aceh Utara Sebut Dua Kemungkinan

LHOKSUKON – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sampai saat ini belum memulai proses seleksi calon...

Angka Stunting Gayo Lues Tertinggi di Aceh, Kejari Ajak Camat dan Pengulu Lakukan Ini

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Gayo Lues memberikan bantuan kepada seratusan warga dalam kegiatan Adhyaksa...

Hari Ini, Didiskusikan Seni Budaya dalam Pandangan Islam

BANDA ACEH - Para tokoh dari semua stakeholder akan mendiskusikan terhadap pandangan seni budaya...

Forhati Aceh Gelar Muswil, Tetapkan Program Kerja, dan Pilih Presidium Baru

BANDA ACEH - Pengurus Wilayah Forum Alumni HMI-Wati (Forhati) Aceh menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil)...

Pererat Silaturahmi, Permasa Kepri Gelar Turnamen Mini Soccer

Demi menjaga ukhuwah dan tali silaturrahim, Perkumpulan Masyarakat Aceh (Permasa) Kepulauan Riau menggelar turnamen...

Dirut PT Bina Usaha Diangkat Kembali Sampai 2027, Begini Reaksi Ketua Komisi III DPRK

LHOKSUKON – Diduga secara diam-diam Bupati Aceh Utara periode 2017-2022, Muhammad Thaib, menjelang berakhir...

Mahakarya Raspadori Seret Inggris ke Degradasi

Oleh Yulia Erni* Malang benar nasib Inggris dalam pertarungan ke-5 di Liga A Grup 3...

Peduli Pendidikan, Relawan HMI Mengajar di SMA Pedalaman Aceh Utara

LHOKSUKON - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe-Aceh Utara telah melaksanakan kegiatan pengabdian "HMI...

Rekanan Sebut Rehabilitasi Bendung Irigasi Krueng Pase Baru 35 Persen

ACEH UTARA - Progres proyek rehabilitasi Bendung Irigasi Krueng Pase di Gampong Pulo Blang,...

Putra Aceh Pimpin Immapsi, Pelantikan di Universitas Negeri Malang

MALANG - Putra Aceh, Athailah Askandari, terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Manajemen Pendidikan/Administrasi...

Pegiat Sejarah Minta Situs Makam Ulama Kesultanan Aceh Darussalam di Lamdingin Tetap Dilindungi Pada Posisinya

BANDA ACEH - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh mengadakan acara rapat yang...

Ratusan Pendaftar Calon Panwascam di Aceh Utara

ACEH UTARA - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh Utara menyebutkan pendaftar calon pengawas pemilu...

Pemerintah Aceh Fasilitasi Pemulangan Dua Pemuda

JAKARTA - Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) membantu memfasilitasi pemulangan dua pemuda Aceh dari...

39 Warga Lhokseumawe Terjangkit DBD, Begini Antisipasinya

LHOKSEUMAWE - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lhokseumawe mencatat sebanyak 39 warga di daerah ini...

HMI dan Dinkes Buka Pelayanan Kesehatan Gratis di Pedalaman Aceh Utara

LHOKSEUMAWE - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara melaksanakan kegiatan pengabdian yang...

Kadis DLH: Sampah di Lhokseumawe 108 Ribu Kg Per Hari, Butuh Depo untuk Pengolahan

LHOKSEUMAWE - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lhokseumawe mencatat produksi sampah di daerah ini...

AHM Luncurkan Supersport New CBR250RR Berkarakter Big Bike

Jakarta – PT Astra Honda Motor (AHM) meluncurkan New CBR250RR dengan mengadopsi karakter motor...

TA Khalid dan Pj Bupati Aceh Utara Temui Dirjen PKTL KLHK Wujudkan Program TORA

JAKARTA - Penjabat Bupati Aceh Utara, Azwardi, bersama Anggota Komisi IV DPR RI, H....