Parlemen baru Aceh yang beberapa hari lalu dilantik, harus punya etos itu, karena mereka merupakan orang-orang terpilih, yang dipundaknya ada beban kemaslahatan rakyat banyak. Mereka harus memiliki etos untuk membangun, bukan meruntuhkan ke-Aceh-annya. jadilah Aceh Tulen.

Etos berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang bermakna watak atau karakter. Etos bisa dimaknai sebagai semangat kerja. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) etos diterjemahkan sebagai karakteristik, sikap, kebiasaan, kepercayaan, yang bersifat khusus.

Etos kadang juga muncul dari sebuah ungkapan, sebut saja contohnya seperti bangsa Yahudi yang berpegang pada kalimat “we are the chosen people”, dari sini etos politik mereka bangkit, karena menganggap dirinya sebagai orang-orang pilihan. Dengan kalimat itu mereka bangkit menguasai dunia.

Hal yang sama juga berlaku di Jerman. Mereka mengatakan “Deutc uberaless”, ras Aria (rasnya bangsa Jerman) adalah ras tertinggi. Amerika lain lagi, mereka menganut etos nasionalisme yang sangat besar pengaruhnya dalam pembangunan negara tersebut menjadi adi daya. Falsafah mereka dalam membangun Amerika adalah, “We keep America on top of the word.”

Lalu bagaimana dengan Aceh, sebagai sebuah bangsa Aceh juga memiliki banyak falsafah yang menjadi etos politik pemerintahan sejak zaman dahulu. Ungkapan “Aceh bangsa teuleubeh ateuh rhuen donya”, merupakan etos yang diwariskan oleh Endatu, nenek moyang bangsa Aceh tempo dulu. Bila Yahudi menyakini mereka merupakan bangsa pilihan, Jerman menganggap dirinya ras terbaik, dan Amerika merasa yang teratas di dunia, Aceh lebih dari itu, bangsa teuleubeh bukan hanya lebih dari bangsa pilihan, ras terbaik dan teratas, tapi teuleubeh bermakna lebih dari semua itu. Ini yang harus ada dalam benak setiap orang Aceh, sehingga semangat untuk membangun itu muncul.

Orang Aceh dalam pencaturan politik dunia masa lalu, sudah mengangap dirinya sebagai bangsa yang melebihi bangsa manapun. Sejarah kegemilangan Aceh masa lalu juga tak lepas dari etos tersebut. lalu bagaimana sekarang, etos bangsa teuleubeh itu kini malah telah terdegradasi menjadi candaan, Aceh terlalu sering menertawakan diri sendiri.

Aceh terlalu sering larut dalam debat kusir tapi melupakan masa depan, sibuk saling menghantam lupa untuk merangkul, padahal semua persoalan ada jalan keluarnya, sangsui beuneuéng tawoë bak pruét, karu buét tawoë bak punca. Sama-sama harus kembali pada pokok persoalan, bagaimana membuat Aceh ini kembali menjadi bangsa teuleubeh.

Aceh harus kembali bercemin pada masa lalu, bagaimana kekuasaan dibangun secara kolektif untuk mencapai kemenangan, tidak saling sikut untuk menuju ke puncak. Ada saatnya kekuasaan itu direbut, ada kalanya pula direlakan, meski perjuangan manusia melawan kekuasaan ibarat perjuangan ingatan melawan lupa, setidaknya begitu kata Milan Kudera, penulis besar Cheko dalam novelnya, “The Book of Lougther abd Forgetting”  melalui tokoh Mirek.

Nafsu terhadap kekuasaan harus terukur demi menjaga Aceh yang lebih baik, jangan karena keserakahan membuat kebersamaan menjadi keterpisahan. Mengutip apa yang dikatakan Jhon Adam, Presiden ke dua Amerika, bahwa semua manusia adalah monster yang serakah ketika nafsu gagal dijaga. Jangan menjadi monster hanya karena kepentingan politik sesaat. Bertindaklah dengan baik untuk Aceh yang lebih baik, sebab nasib Aceh ke depan tidak terletak pada keberuntungan, tapi pada tindakan orang-orang Aceh hari ini.

Mari berbuat yang terbaik untuk Aceh, agar kita bisa terus membanggakan diri sebagai orang Aceh, sebagai bangsa teleubeh ateuh rhueng donya. Menutup tulisan ini saya kutip pernyataan penyair Scotlandia Robert Barn (1759-1796) dalam puisinya berjudul “To a Louse”  katanya, jika kita bisa melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita. Kita bakal terbebas dari banyak kekeliruan dan gagasan-gagasan bodoh. Jadi simpanlah ego, bangunlah etos.[**]